Jumat, 20 Maret 2015

[TRILOGI : DARAH EMAS] - MEMPELAI NAGA

Judul : [Trilogi Darah Emas] - Mempelai Naga

Penulis : Meliana K. Tansri

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Halaman : 248


Jambi, tahun 1987, sudah beberapa tahun dibelit pro-kontra pendirian sebuah pabrik kayu lapis, yang diduga dibangun di atas sebuah situs purbakala di Kemingking. Rigel, seorang wartawati, berusaha membongkar konspirasi di baliknya, tetapi usahanya digagalkan secara tragis.


Sementara itu Hartanto, pemilik pabrik, mendengar kabar buruk bahwa keluarganya akan dihabisi oleh Naga, roh yang menjaga alam. Bersama Datuk Itam, dukun sakti komplotannya, dia memburu gadis yang menurut ramalan dipilih oleh Naga untuk melahirkan anaknya, yang akan bertugas menghancurkan mereka semua.

Cen Cu, gadis yang dipilih oleh Naga, diselamatkan oleh seorang pemulung tua. Tetapi Hartanto dan komplotannya berhasil menemukannya, dan berusaha membunuhnya ketika dia sedang berjuang melahirkan anak sang Naga. 


Awalnya saya tidak begitu berminat untuk membaca buku ini. Saya termasuk pembaca yang memilih bacaan berdasarkan cover. Saya tahu itu tidak baik, karena tidak boleh menilai hanya berdasarkan cover. Setelah melihat beberapa kali buku ini didiskonan buku. Akhirnya saya membelinya juga. Meski pas awal membaca saya sempat malas. Karena tokohnya menggunakan nama cina. Oke sekali lagi saya telah menjudge sebuah buku hanya karena hal-hal tidak masuk akal.

Pertama kali membaca kisah hidup Cen Cu, saya seolah membayangkan dongeng Cinderela.  Ibu yang telah meninggal ketika melahirkannya, Ayahnya yang menikah lagi dan memiliki saudara tiri. Yang membedakan adalah ini kisah Cen Cu, wanita yang akan dipilih naga untuk menjadi mempelainya. Saudara tiri yang dimilikinya pun bulanlah wanita, melainkan para lelaki. Meski ibu tirinya sering menyuruh, membentak dan menghukumnya. Namun tidak sejahat terlihatnya, dan Cen Cu pun begitu mencemaskannya. Itu terbukti ketika Guam Kim (Ibu tirinya) sakit, Cen Cu meminta pertolongan sang Naga. Sisik emas Naga yang diberikan untuk membeli obat, ternyata menjadi awal kehidupannya berubah. Penemuan sisik emas naga mengantarkan Hantoro (Musuh Naga) datang ke desanya untuk memburunya bahkan berniat untuk membunuhnya.

Kehamilan Cen Cu pun diketahui oleh Guam Kim, tak hanya sekedar marah dan kecewa. Sang ibu tiri pun mengusirnya dan menyerahkannya pada seorang pemulung tua yang sering datang ke rumahnya.  Cen Cu merasa sedih dengan perlakuan ibu tirinya, Guam Kim sesungguhnya terpaksa melakukan hal tersebut. Ia tau semakin lama Cen Cu bersamanya, maka keselamatan Ceng Cu tidak ada yang bisa menjamin. Cen Cu yang tiba-tiba menghilang, membuat Hartanto bersama Datuk itam (dukun yang mampu menerawang masa depan) pun terus mencari keberadaan Cen Cu. 

Rigel, wartawati cantik yang begitu cerdas berusaha membuktikan keberadaan situs Kemingking pun berhasil disingkirkan. Kehadiran Rigel di Jambi, tidak hanya memberikan sebuah berita besar yang membuat Hartanto murka, namun juga mengungkap masa lalu Rigel. Kejadian demi kejadian yang dialaminya diJambi, membuatnya memutuskan untuk meninggalkan kota tersebut.

Ada rahasia besar apa antara Rigel dengan Hartanto dan berhasilkah Hartanto bersama Datuk Itam membunuh Cen Cu dan keturunan Naga.

Penulis berhasil membuat pembaca seperti saya membaca buku ini hanya dalam waktu sehari setengah. Penggunaan bahasanya baku, namun pembaca tidak kesulitan untuk memahaminya. Sayangnya asal usul Sang Naga tidak dijelaskan disini, dan mengapa pula harus situs Kemingking yang menjadi pilihan. Tapi secara keseluruhan buku ini cukup menyenangkan untuk dibaca.


Rating :3/5


18 Maret 2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar