Minggu, 08 Juni 2014

Kamisan #4 : HALUSINASI - KOMA!

Masih suasana yang merindukan, pada ruangan ini. Lantai yang berwarna cokelat muda, dinding  cream yang teduh dan atap ruangan berbahan kayu. Warna coklat begitu mendominasi ruangan 5 x 8 meter yang terisi kenangan tentang kita. Langit-langit ruangan ini masih sama, masih berhiaskan benda-benda berbentuk bintang. Benda yang akan terlihat bersinar ketika lampu di ruangan ini di matikan.

“Seperti melihat hamparan bintang nan luas, tidakkah kamu menyukainya ?” ucapmu kala itu

Di sudut ruangan ini, terdapat kursi kayu panjang. Kursi yang letaknya berdampingan dengan rak penuh buku-buku kesayanganmu. Tempat kesukaanmu membaca ketika hari mulai sore. Diantara rak-rak yang penuh buku, terdapat sebuah jendela. Dimana di balik jendela terdapat pemandangan taman belakang rumahmu. Bunga-bunga nan indah dapat terlihat jelas melalui jendela ini. Satu-satunya pembatas dimana cahaya mentari senja masuk tanpa permisi. Mengunci setiap kegiatan kita. Dimana kita akan sama-sama membisu memandang senja hingga tenggelam dan bergantikan malam.

 “Kapan kamu datang Kom ?”

Dengan reflek tubuhku berbalik kearah suara itu berasal. Ada kamu yang tengah melihatku dengan tatapan tidak percaya. Aku hanya mampu tersenyum.

“Aku rindu kamu.” Kalimat itu mengalir dari bibir mungilmu, saat kamu merangkulku demikian erat.

“Kei, kamu demam ya ?” aku memeriksa keningnya.

“Tidak, ini adalah aura bahagia karena telah berjumpa denganmu. Saat kamu datang, mengapa tidak membangunkanku ?”

“Maaf, aku memang sengaja tidak membangunkanmu. Sepertinya kamu tengah lelap dan bermimpi indah.“

Bibirmu bergerak membentuk senyuman. Senyum yang akan selalu ku rindu. Senyum yang mampu menyirami hatiku yang tengah kemarau.

“Mengapa kamu baru pulang sekarang Kom. Tidakkah kamu merindukan aku?”

Tatapan itu, tatapan sayumu. Rasanya aku tidak tega memberikan alasan, mengapa aku baru bisa kembali. Tolong jangan menatapku seperti itu Kei, kamu membuatku merasa lebih bersalah. Aku memalingkan wajahku, melepaskan tatapanmu dari mataku.

“Maafkan aku baru bisa kembali hari ini. Maaf juga aku belum bisa menepati janji-janji yang pernah kita sepakati sebelum aku pergi. Maafkan aku Kei.” Aku berucap tulus, perlahan pelukan itu mulai merenggang.

“Tidak apa-apa. Aku tidak perlu janji-janji itu. Aku hanya butuh kamu di sini Kom.”

Kamu mengajakku duduk, pada bangku dekat jendela. Tempat dimana kita bisa memandang dengan begitu indah bunga-bunga di luar sana. Tempat dimana kita saling berbagi cerita tentang apa saja.

Andai saja aku bisa mengajakmu bersama ku Kei.

******

“Kei, sedang apa disitu ?” kepala Brima muncul di balik pintu yang telah dibukanya.

Aku menoleh reflek kearah Brima. Menghentikan pencarian buku yang ingin aku tunjukkan ke Koma. Brima adalah saudara tiriku. Anak dari ayah tiriku. Meskipun kita tidak lahir dari aliran darah yang sama, namun aku merasa bahwa dia adalah saudara kandungku.

Aku menghampiri Brima.

“Brim sini aku kenalin dengan temanku Koma” aku menoleh kearah tempat Koma berada. Koma tidak ada di sana. Hanya ada bangku kayu panjang yang kosong. Bercahaya di terpa sinar senja, dengan angin menggoyangkan kain yang menjadi penutup jendela itu sendiri.

“Pasti dia pergi lagi lewat jendela. Kamu sih Brim, tiba-tiba saja masuk tanpa harus permisi. Koma kan jadi pergi. Pasti karena takut sama kamu.” Aku menahan kesal pada Brima.

“Mungkin kamu hanya berhalusinasi Kei, demammu belum jua mereda kan.“

Brima meletakkan tangannya di keningku. Memeriksa suhu tubuhku.

“Tidak mungkin aku berhalusinasi, aku tadi memeluknya. Hangatnya masih terasa di jemariku Brim.”

Aku mulai kesal. Mana mungkin aku berhalusinasi. Jelas-jelas tadi aku berbincang dengan Koma. Aku mulai mengingat-ingat, kegiatan apa saja yang tadi aku lakukan bersama Koma. Sayangnya tidak ada bukti nyata yang menjelaskan bahwa Koma bersamaku sejak siang tadi.

“Koma itu orang yang beberapa bulan lalu pergi meninggalkan kamu tanpa kabar kan ? orang yang menyebabkan kamu menjadi pemurung seperti ini kan ? benar Koma yang itu Kei ?” pertanyaan beruntun pun hadir dari mulut Brima.

“Iya Brim, memangnya ada Koma yang lain ?”

Brima memegang kedua pundakku dengan tangannya.

“Kei”

“Ya”

Brima tiba-tiba saja memelukku demikian erat membuat dadaku sesak sulit bernafas.

“Ada apa sih Brim ? sesak tau!” protesku sambil melonggarkan pelukannya.

“Aku tidak tega mengatakannya padamu Kei.” Suaranya kini terlihat sedih.

“Katakanlah”

Hening yang cukup lama. Pasti dia akan memulai aksi jahilnya. Aku tidak boleh tertipu lagi olehnya.

“Kei..." Brima menarik napasnya begitu dalam. "Bagaimana bisa Koma ada bersamamu, sementara 3 jam yang lalu Koma telah meninggal di tempat karena kecelakaan dalam perjalanannya ke sini" Brima menarik napasnya kembali sebelum kalimat berikutnya meluncur. "Baru saja temanmu Adham memberitahukannya Kei.”

Aku memandang Brima, melihat ke dalam matanya. Mencari-cari kejujuran di balik ucapannya. Mata Brima terlihat sayu, seperti mata yang tengah mengasihani seseorang. Benarkah ucapanmu Brim ?

“Tidak mungkin Brim, tidak mungkin!” tubuhku melunglai, bulir-bulir air mulai keluar dari mataku.

“Demi Tuhan Kei, aku tidak berdusta untuk kabar ini. Koma mu telah di jemput oleh Tuhan Kei.”

“TIDAK BRIM, TIDAAAAK!!” 


04:31 pm
08 Juni 2014



4 komentar:

Unknown mengatakan...

Duh kak :-(
Turut berduka untuk Koma :-(

jokbelakang mengatakan...

Menguci apa kak?

kecebonk mengatakan...

mengunci itik maksudnya, thank you yah infonya (f)

kecebonk mengatakan...

=))

Posting Komentar