Jumat, 05 September 2014

#Kamisan 14 : Serendipity - KOMA!

Aku masih menikmati alunan irama musik yang dikeluarkan oleh ponselku lewat earphone, lagu kesukaanku. Sesekali aku melirik kertas kecil dalam genggamanku, kertas yang berisikan beberapa angka, sebuah nomor urutan. Aku melirik angka yang tertera pada layar digital. Layar yang letaknya berada kurang lebih tiga meter dari tempat aku duduk yang posisinya berada dibawah langit-langit.

'masih dua antrian lagi' ucapku dalam pikiran.

"Nomor antrian dua ratus delapan belas, teller delapan" suara yang berasal dari rekaman terdengar memenuhi ruangan.

Aku beranjak dari tempatku terduduk dan berjalan ke arah tempat yang telah diinfokan.

"Selamat siang, selamat datang di Bank Kecebonk, dengan saya Koma ada yang bisa dibantu?"

Suara sapaan yang tidak begitu aku perhatikan dengan jelas. Suara sapaan yang terus-menerus diucapkan pada setiap nasabah yang datang, karena itu merupakan salam wajib yang dilakukan oleh teller setiap kali nasabah datang kepadanya.

"Iya, saya mau setoran."

Aku menyerahkan beberapa uang yang telah dibundel dan slip setoran yang sebelumnya telah kuisi terlebih dahulu. Teller tersebut mengambilnya, melihat slipnya dan mengucapkan nominal yang tertera.

"Mohon diperhatikan, uangnya saya hitung dimesin ya bu."

"Iya," jawabku singkat.

"Sepertinya kalau setoran kesini terus yah ?" Ucapnya disela-sela uang mulai dihitung dimesin.

"Memang setiap hari saya selalu setoran ke sini sih."

"Bukan, maksud aku. Setiap kali setoran tellernya selalu ke aku."

"Ah, masa sih?"

"Iya"

"Ah, maaf aku tidak terlalu memperhatikan." Aku tersenyum.

Kamu pun membalas senyumku, dan mulai sibuk menghitung uang yang aku berikan. Pandangan kualihkan pada papan nama yang ada dihadapanku ini.

'KOMA,' aku mengeja nama itu dalam hati. Nama yang unik.

"Silahkan Ibu Kei, transaksinya sudah berhasil kami proses. Saya tunggu kedatangannya kembali."

"Oke, trims ya."

Aku mengambil kertas bukti bank, lalu pergi meninggalkan tempatnya bekerja.

Pekerjaanku sebagai seorang admin disalah satu restaurant memang membuatku harus ke bank setiap harinya. Lumayan menyenangkan menurutku, karena aku butuh peralihan dari kejenuhan yang setiap harinya kulakukan, seperti berhadapan dengan komputer dan setumpuk laporan-laporan.

Keesokan harinya, ritual ke bank pun masih aku lakukan. Berjalan kaki menuju bank. Masuk kedalam bank, menyapa satpam yang berjaga. Mengambil nomor antrian, kemudian duduk menunggu.

Nomor antrianku pun terpanggil, aku melirik nomor tellernya.

'Koma,' ucapku dalam hati.

Aku berjalan kearah teller yang dimaksud.

"Selamat siang, benar kan kita ketemu lagi."

Kamu tersenyum, dan mengambil slip setoran yang aku keluarkan. Aku hanya tersenyum dan tidak berniat bersuara. Kamu pun mulai bekerja dan menghitung uang-uang itu dengan mesin.

"Ada yang bisa dibantu lagi, Ibu Kei ?"

Aku menggelengkan kepalaku, " terimakasih."

Aku meninggalkan teller tersebut dan kembali ketempat aku bekerja. Dalam perjalanan pulang aku berfikir, ini pasti suatu kebetulan.

Esoknya aku kembali lagi ke bank tersebut. Masih dengan ritual yang sama, masuk ke dalam bank, menyapa para satpam, mengambil nomor antrian, lalu duduk menunggu sampai nomor antrian terpanggil. Nomorku terpanggil, dan .....

"Selamat siang, Ibu Kei,"

Koma lagi!!

Astaga apa-apaan ini?

Hari keempat, aku datang ke bank itu lagi. Kali ini aku sengaja datang lebih siang dari biasanya. Sejak pertama kali aku tersadar akan sosok Koma. Entah mengapa sepertinya takdir mulai memepermainkan aku. Awalnya aku menganggap ini suatu kebetulan. Nomor antrian yang aku ambil, lamanya masing-masing nasabah bertransaksi hingga nomor antrianku terpanggil dan mengapa teller yang sesuai nomor urutku selalu Koma. Rasanya seperti ada konspirasi dibalik itu semua.

Siang itu cuaca sungguh tidak bersahabat, panas yang dipancarkan terlampau terik. Sesungguhnya aku malas bila ke bank harus siang-siang seperti ini.

"Tumben datangnya siang?" Satpam wanita di bank yang kukunjungi menyapaku.

"Iya, soalnya tadi ada kerjaan dulu yang harus diselesaikan," jawabku berbohong.

Aku mengambil nomor antrian, dan mulai duduk menunggu. Pandanganku langsung kusapu ke arah para teller dihadapanku. Satu per satu ku lihat, tidak ada Koma disana. Aku tersenyum, sepertinya kemarin-kemarin hanya sebuah kebetulan setiap transaksiku dibantu olehnya.

Nomor antrianku sebentar lagi terpanggil, tinggal menunggu satu nasabah selesai transaksi nomor urutku pun akan terpanggil. Sosok yang beberapa menit tadi aku cari, tiba-tiba muncul dari ujung teller, berjalan ke posisi ke tempat dia bekerja dan mulai menekan tombol panggilan nasabah. Dan sudah bisa ditebak, nomor antrianku pun terpanggil.

Aku berjalan ke arah Koma, tempat nomor antrianku terpanggil.

"Selamat siang Ibu Kei, tumben sekali ke banknya siang," sapanya ramah.

Aku tersenyum, kemudian menjawab "Iya, tadi saya sedang ada kerjaan yang harus diselesaikan."

Transaksi selesai, aku mengucapkan terimakasih, dan mulai kembali ke tempatku bekerja.

'Kebetulan macam apa ini,' ucapku dalam pikiran.

"Kalau kayak gitu sih, lw harus minta nomor teleponnya Kei. Itu artinya lw harus bersilaturahmi panjang sama dia" ucap salah seorang sahabatku ketika aku bercerita tentang kebetulanku bertemu dengan Koma setiap aku melakukan transaksi di bank.

Minta nomor telepon, bersilatuhami. Berarti aku harus mengenal lebih perihal dia. Rasanya itu tidak mungkin, mana mungkin tanpa sebab yang jelas tiba-tiba saja aku minta nomor teleponnya.

Ritual ke bank pun masih ku lakukan, namun kali ini aku tidak datang kesana siang. Aku datang seperti hari-hari sebelumnya. Dan aku sudah tidak terlalu memikirkan perihal dia. Tapi entahlah bagaimana rencana Tuhan yang siapkan untuk aku dan Koma. Seperti hari ini, teller untuk transaksi keuanganku, Koma lagi.

"Pagi Ibu Kei, mohon maaf hari ini transaksi online kami sedang mengalami gangguan, Jadi belum bisa melakukan transaksi untuk setoran."

"Waduh, kalau yang dicabang lain sama juga ndak ya? Soalnya setorannya harus masuk hari ini."

"Semua cabang sama bu, tapi kalo setorannya masuk hari ini bisa saja. Tapi sementara kita terimainnya manual dulu termasuk bukti transaknya. Nanti bila sudah online lagi, baru kita proses. Bagaimana ?"

"Pasti masuk hari ini kan? Nanti saya tau setoran saya sudah masuk atau belum bagaimana ya ? Saya boleh tahu nomor telepon sini ndak ya?"

"Ini nomor telepon saya," kamu menyebutkan nomor dan aku mulai menyimpannya diponselku.

"Kalau pin BB nya berapa ya? Biar lebih gampang memberikan infonya, soalnya saya ndak ada pulsa." ucapmu selanjutnya.

Aku sempat terdiam beberapa detik, namun akhirnya memberikannya.

Setelah transaksi manual selesai, aku mengucapkan terimakasih. Beberapa puluh meter aku berjalan, ponselku bergetar, aku melihat layar ponselku. Ada sebuah BBM.

"Kei, transaksinya sudah diproses ya."



05 September 2014
10:43 am





1 komentar:

jokbelakang mengatakan...

Ahahaha unik yaaa caranya ketemu si kei sama koma ini. . Si koma pasti pake pelet mahhaha biar nasbahnya si kei terus

Posting Komentar