Tampilkan postingan dengan label catatan kawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan kawan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Agustus 2014

PUZZLE!

Masih teringat ? 
bagaimana cara Tuhan memperkenalkan kita,
memisahkan kita,
mempertemukan kita,
kembali,

Ada bahagia yang membuatku bersyukur
Ada hilang yang membuatku mencari
Ada kamu, yang membuatku terus percaya
Keajaiban itu ada.

Sumber Google
Kala itu kita pernah berbicara tentang sebuah puzzle, apakah kamu masih mengingatnya ? Kamu bercerita bahwa kehidupan itu bagaikan potongn-potongan puzzle. Dimana potongan-potongan itu tengah bertebaran dan menunggu waktu untuk mempertemukan kembali, antara potongan yang satu dengan potongan yang lain. Atau potongan puzzle yang sudah kita dapatkan, bisa saja potongan itu lepas dari wadahnya. Lepas yang bukan berarti hilang, namun lepas yang mencari potongan puzzle yang lain. Mengajaknya bersama-sama bergabung dan menyelesaikan satu gambar dalam kehidupan.

Kala itu aku terdiam, berfikir. Seketika aku pun menyetujuinya. Seperti kisah yang kita alami, Tuhan memperkenalkan kita, membuat kita terpisah kemudian dengan alasan waktu Tuhan mempertemukan kita kembali. Benarkah waktu yang menjadi alasan. Ataukah karena hadiah Tuhan setelah melihat caraku saat mencarimu ?

Ketika kita mencari sesuatu seperti meraihnya dan berjuang untuk mewujudkannya. Waktu dan kejadian adalah dua hal yang sangat jahat. Mampu membuat perubahan terbesar, termasuk keyakinan apakah yang selama ini diraih atau dicari bisa terjadi. Percayakah, keajaiban kadang hadir dibatas kita telah mengikhlaskan apa yang dicari dan diraih. Dan sekali lagi waktu dan kejadian menjadi dua hAl yang mempermainkan perasaan. Apakah kita benar-benar telah mengikhlaskannya atau justru melangkah dan meraihnya serta mempertahankannya.

Begitulah, potongan-potongan puzzle yang dibawa oleh potongan puzzle yang lain pun, belum tentu itu adalah potongan puzzle dalam kehidupan kita. Biasa saja itu potongan puzzle yang salah. Dan potongan puzzle itu pun hanya akan singgah, kemudian pergi dan tidak pernah kembali.

Bagaimana dengan kita?

Apakah kamu termasuk potongan puzzle yang memang ditakdirkan Tuhan untukku ?

11:48 pm
07 Agustus 2014

Rabu, 02 April 2014

Surat Untuk Mantan

Teruntuk kamu, pencinta lautan di langit senja.

Sudah sampaikah salam-salam yang ku titip, lewat perantara hidupku ? Atau kamu memang sudah tau. Salam yang ku sebut dalam doa itu, selalu tertuju padamu ?

Masihkah kamu melihat senja yang sama yang kupuja. Masihkah kamu melihat laut, yang diam-diam namamu selalu kusebut. Masihkah kamu melihat semuanya, termasuk aku yang masih setia pada dunia.

Don, mengenalmu ternyata terlalu singkat. Bila di ukur di sepanjang perjalanan hidupku. Dan selalu langit dan senja, yang menjadi catatan di perjalanan hidup kita. Masih ingatkah, saat kamu yang dengan setia menungguku kala penuh kegiatan menghujamku. Masih ingatkah, kala ada sindiran-sindiran halus mereka terhadap kita. Dan masih ingatkah, selalu tawa yang kita cipta ketika menanggapinya.

Teman-teman sekeliling kita, sesekali begitu sering berbisik. Bahwa kita tengah terjebak pada hubungan lebih dari kata pertemanan. Kamu pun sering bercerita, kekasihmu terlalu cemburu pada aku yang telah berjasa menjadikan kalian berpasangan. Dan aku hanya mampu tersenyum.

Kebersamaan kita, sempat terkunci dalam bingkai yang kini ku simpan dengan rapih di dalam lemari. Gambaran aku dan kamu tersenyum, dengan latar langit senja yang menawan. Sayang semua hanya tinggal kenangan.

Semestinya hari ini, kita masih bisa tertawa. Bersama lautan dan senja, berbagi cerita lama. Atau dengan sengaja berencana mengukir cerita. Sayangnya semesta menjadikan hubungan kita tiada.

Malam itu masih seperti biasa, kamu mengirimiku dengan pesan-pesan ceria. Menanyakan aku sedang apa, dan ingin apa. Kamu berkata, esok kamu akan menemuiku dari tempatmu mencari ilmu alam. Lagu yang kamu nyanyikan menjelang ku tidur pun, akhirnya menjadi lagu terakhir yang kamu nyanyikan untukku. Dan menjadi hari terakhir pula aku mendengar suaramu.

Sepertinya Tuhan sangatlah menyayangimu, kawan. Di panggilnya lah kamu,tanpa perlawanan. Tanpa sempat aku mengucapkan kata selamat tinggal. Hingga aku meyakini, tidak pernah ada kata selamat tinggal untukmu. Tidak pernah ada kata perpisahan untukmu. Sebab kamu masih selalu ada bersamaku, hidup dalam jiwaku bersama kenangan-kenangan.

Don, rangkaian cerita kebersamaan kita mungkin telah terhenti. Namun rindu-rindu itu selalu ku semayamkan dalam doaku tanpa jeda. Aku percaya, kebersamaan kita akan kembali pada hari nanti. Hari dimana Tuhan mempertemukan kita, dalam raga yang berbeda.

Don, kamu adalah awan yang membungkusku demikian hangat. Kamu adalah bintang yang menemani gelap yang pekat. Dan kamu dengan kebaikan-kebaikan yang serupa malaikat. Sedangkan aku hanyalah manusia yang melepasmu demikian berat.

Ada yang bilang, ketidakbersamaan adalah mantan. Walau kita tiada lagi bersama, kamu tidaklah menjadi mantan dalam hidupku. Bila mereka menyebutmu mantan, kamu adalah mantan yang tidak pernah menjadi mantan.


Don, aku menyayangimu dengan tulus, tanpa rasa cinta lebih. Dan kamu pun mengetahuinya.


Salam rindu untukmu, Ida Bagus Dony. Sahabat yang tengah tersenyum, menatapku dari surga.




Nb :

Tulisan ini di ikut sertakan untuk lomba #Suratuntukruth Novel Bernard Batubara @Gramedia.

Kamis, 27 Februari 2014

Diantara Pagi, Kelabu


Benarkah pagi ini kelabu?
Benarkah hariku akan kelabu?
Benarkah kota ini mengkelabukan hariku, atau
Benarkah hari ini menjadikan kota ini kelabu?

Pagi ini , harusnya hujan tidak datang begitu deras. Hari ini harusnya hujan telah berhenti sejak mentari mulai terbit. Kota ini harusnya lebih sejuk dan hangat. Harusnya hari ini, masih sama seperti kemarin, tanpa cerita berarti.

Masih seperti biasa, saat mentari belum terbit aku telah meninggalkan rumah. Tapi tidak dengan bututku yang menemani. Kesetiaan itu kini berpindah pada air yang dengan konsisten mencurahkan rasanya pada bumi. Aku basah.

Menyebalkan memang, bermandikan air langit di pagi hari. Menyebalkan memang, mendapat beberapa cipratan air bumi. Dan.

Menyenangkan memang, bertemu kamu dalam ruang bergerak selama perjalanan. Menyenangkan memang, dengan manisnya kamu tersenyum. Kamu, seseorang yang rasanya telah aku uapkan. Pagiku, hariku dan dalam perjalanan kota. Tidak lagi kelabu.


26 Februari 2014



Jumat, 24 Januari 2014

Genggaman


Hari itu kita hadir dalam tawa
Dalam rindu yang berubah menjadi temu
Kamu gadis pencinta ungu
Dan aku anak manusia penyuka biru

Aku mengenalmu saat kata belum ku eja
Saat kata masih ku raba dalam suara
Kamu gadis pencinta sastra
Dan aku anak manusia penyuka angka

Hari ini kita bersuka di bawah tetesan hujan
Di bawah rasa yang bergelora, aku megenggammu dengan tidak sengaja
Jemari kita melekat, bersama melintasi hutan

Ada beberapa pasang mata yang melirik tajam pada genggaman kita
Atau mungkin pada wajahku atau pada wajahmu
Ketidakpedulian, menguatkan ku
pada manusia-manusia di sini yang tidak akan kita temui kembali
Bersukacitalah, pada apa yang kita suka
Pada genggaman yang mungkin akan kamu lupa dan aku selalu mengingatnya
Hari ini aku bersuka, karenamu...


24 Januari 2014

sumber foto : cahayakeduamata.blogspot.com

Rabu, 06 November 2013

Ketika gengsi sudah kebeli,

"ketika gengsi seseorang sudah kebeli, prinsip hidup seolah goyah. Hal yang biasanya di katakan tidak kini mampu berubah menjadi iya."

Pagi ini seperti biasa aku mengantri di bank. Aku membuka pintu masuk bank itu. Ada salam dari satpam, seperti biasa. Aku mengambil nomor antrian pada mesin di sebelah kanan dari pintu masuk bank tersebut. Aku melihat nomor antrianku, di bawah nomer antrian terdapat angka. Angka yang menunjukkan berapa antrian lagi yang harus aku tunggu hingga nomor antrianku terpanggil. Dua belas antrian lagi, angka tersebut yang tertera. Tidak terlalu banyak, pikirku.

Aku duduk di bangku tunggu. Melihat antrian yang cukup panjang. Aku memasang earphone, mulai mendengarkan musik. Saat sedang menikmati musik mengalun lembut di telingaku. Aku merasa ada yang memanggil namaku. Ku toleh ke kanan dan ke kiri. Mencari mimik muka yang tengah memanggilku. 

Aku menemukannya, dia yang sejajar dengan tempat aku duduk. Dia di hadapanku, seseorang yang biasa di sebut dengan teller. Dia memanggil namaku kembali. Aku seketika melihat angka pada kertas antrianku dan mencocokkannya dengan nomor pada papan digital antrian. Urutan nomor antrianku masih jauh untuk di panggil. Namun teller itu masih memanggil namaku. Aku pun menghampirinya dengan ragu.

Teller itu mengucapkan salam. Teller yang sudah ku kenal namanya, karena seringnya aku mengunjungi bank ini.

"Nomor antrianku kan masih jauh, kok sudah di panggil ?" tanyaku keheranan.

Seingatku, teller yang satu ini sangat menjunjung kedisiplinan. Paling tidak suka dengan yang namanya menyerobot antrian. Jadi orang itu harus disiplin dengan mengikuti nomor urut yang sudah di ambil, begitu ucapnya kala itu kita berbincang. Tapi hari ini, tidak seperti biasanya.

"Nggak apa-apa, sekali ini. Kan kemarin kamu sudah traktir aku makan." ucapnya sambil menutupkan sebagian wajahnya pada slip setoran yang aku berikan.

Aku hanya tersenyum, dalam hati aku tertawa. Begitu mudahnya prinsip seseorang berubah.


06 November 2013

Minggu, 04 Agustus 2013

Lebih dari sekedar kata, rindu...

Siang itu, ketika aku tengah bersiap-siap untuk berangkat kerja. Tiba-tiba saja ada email laporan dari facebook yang menandakan ada yang meng tag namaku pada foto yang di share nya. Aku tidak menggubris bila yang men tag orang yang ku kenal tetapi tidak akrab. Lain soal bila yang meng tag itu adalah Ricke, sahabatku semasa kuliah. Aku melihatnya, aku membacanya, kemudian aku terharu.

"saya tidak salah memilih teman, hanya saja waktu dan keadaan membuatnya tidak bertahan lama"

Kalimat pertama itu berhasil membuatku tersenyum. Senyum sadar, bahwa rindu itu tidak hanya terjadi pada diriku seorang. Tapi juga terjadi padamu, dan mungkin pada teman-teman kita yang lainnya. Dan memang benar adanya, aku tidak salah memilih kalian untuk menjadi temanku selama bertahun-tahun. Meski banyak konflik mewarnainya, serta tidak sedikit pula rasa percaya itu sempat pudar. Dan benar pula, waktu dan keadaan membuatnya tidak bertahan lama mengunci kita dalam kata "kebersamaan". Kini waktu dan keadaan memisahkan kita dalam lingkungan yang berbeda. Dan tempat yang berbeda pula.

Adalah GTS (Gank Tong Sampah), nama yang kita sepakati kala kita menyadari bahwa mereka-mereka hanya memerlukan kita ketika masalah mendera. Kemudian melupakan kita, kala bahagia menghampirinya. Kita hanya tertawa, tersenyum. Ketika mengingat perihal semacam itu. Kita tidak marah, ataupun melarang mereka untuk bergabung bersama kita. Kita selalu bersuka cita menerimanya. 

GTS, bukanlah sekumpulan manusia-manusia tanpa masalah. Masalah kita tidak sedikit, bahkan lebih banyak kompleks nya. Tapi kita punya banyak cara melaluinya. Disini tidak hanya banyak cerita tercipta, tapi juga perjuangan terjadi. Berjuang meraih mimpi, berjuang menjadi diri sendiri, berjuang bahwa kita ada bukan karena orang lain menjadikan kita ada. Tapi kita ada, karena kita menjadikan diri kita ada.

Rindu akan masa lalu bersama kalian, itu pasti. Tapi ada yang lebih penting, selain tenggelam dalam rindu masa lalu. Bukankah kita punya mimpi. Biarkanlah mimpi itu kita kejar. Agar ketika kita berjumpa kembali, banyak cerita yang bisa kita tukar dalam nostalgia yang berbeda.

Aku masih percaya, kita bisa meraih mimpi-mimpi kita. :)


04 Agustus 2013

Jumat, 02 Agustus 2013

Kopi, Senja,.


Masih inget nggak, kapan terakhir kali kita menghabiskan waktu ? Atau masih inget nggak, kapan pertama kali kita menikmati waktu. Mungkin kamu lupa. Kalau kopi dan senja selalu ada di antara pertemuan kita. Kopi dan senja, adalah dua hal yang selalu menemani perbincangan kita. 
Kopi, minuman penuh cafein. Minuman dengan "ramuan ajaib" yang katanya mencegah kantuk. Dan memanglah benar, kantuk itu hilang. Hilang bukan karena meminum kopi, tapi karena berbincang seru bersamamu. 
Senja, salah satu keajaiban Tuhan. Pemandangan indah, saat siang berganti shif dengan malam. Pemandangan istimewa, seistimewa kala tatapan mata ini menatapmu.
Kopi dan senja, masih menjadi hal istimewa yang selalu ku suka. Dua kata itu selalu berhasil mengingatku padamu. Pada pertemuan kita, pada tawa renyah yang selalu kamu suarakan pada udara. Pada cerita-cerita yang selalu kamu dongengkan. 

"istimewa"

Adalah satu-satunya kata yang kurasa pantas untuk ku ungkapkan kala kebersamaan kita. Menurutmu, apakah ada kata lain yang bisa mengungkapkan kebahagiaan itu ? Aku rasa tidak ada. Dan kamu pun, mungkin menyimpulkan dengan kata tidak yang serupa denganku.
Masih kopi, masih senja. Kamu sedang apa sore ini ? Menikmati kopi sepertiku kah?

02 Agustus 2013

Senin, 07 Januari 2013

kita, kamu dan aku

Biarkanlah aku memelukmu, selama yang aku mau, karena Tuhan tau, ini adalah pelukkanku yang terakhir,.
Biarkanlah aku memandangmu lebih lama dari biasanya, karena mata ini tau, ini adalah tatapanku yang terakhir,.
Bersamamu, semua adalah cerita indah,.
Bersamamu, kejadian selalu tercipta cerita,.
Kita tau, perasaan itu hadir tanpa bisa kita cegah,.
Da kita pun tau, kepergianmu adalah takdir yang tak mungkin aku ubah,.
Janji kita adalah janji biasa,.
Tapi perasaan kita sungguh luar biasa,.
Senyummu adalah senyum termanis yang bisa aku kunci dalam pikiranku,.
Senyummu adalah hipnotis bahwa bahagia akan selalu hadir menyertai kita,.
Kita memanglah bukan terlahir menjadi istimewa,.
Kita memang tidak tercipta untuk menjadi sempurna,.
Kekuranganlah yang membuat kita kaya melebihi dua kata indah itu,.
Hujan adalah teman kita,.
Matahari adalah kawan kita,.
Udara dan langit adalah saksi, kita pernah menghadirkan mereka di antara ciptaan cerita,.
Kita bukan lagi dua bagian yang bersatu,.
Kita telah terbagi menjadi aku dan kamu,.
Aku yang selalu mengenangmu dan kamu yang selau mengawasiku,.
Begitulah takdir berbicara pada kita,.

06 Januari 2013
12:35 am

for RIP ucup my friends

Jumat, 14 Oktober 2011

serpihan harapan

Tuhan, kuatkan hatiku.
Berikan aku keluasan hati, melebihi dari yang aku punya,.
Tatapan itu tidak tertuju padaku, harapannya tak pernah tersisa untukku,.
Aku menyadari, bagian dalam hidupnya hanyalah mimpi,.
Titik-titik harapan yang ku bangun untuknya, hanya sapuan angin.
Tak berarti. Terlupakan.
Aku salah, berharap menjadi yang berarti. Itu mimpi,.
Aku tak menyesal, untuk tiap waktu yang terlalui,.
Perasaan sakit itu selalu ada, untuk harapan yang selalu terpangkas,.
Aku bertahan, untuk waktu-waktu yang tak mungkin kembali,.
Mungkin aku telah terbuang dari kehidupan laluku,.
Merangkai, tapi tak pernah menjadi nyata,.
Hanya puing harap, yang sealu berakhir menjadi kehampaan,.

12:25 am
15 Oktober 2011

Sabtu, 24 September 2011

Harap = Kehampaan

Memang benar, hidup itu tidak bisa sendiri. Namun ku merasa, sendiri itu mungkin lebih baik. Tak perlu merasakan, sakit pada hati itu bagaimana, tak perlu merasakan meluap-luapnya egois dan rasa kesal. Benci untuk sesuatu yang aku rasakan itu. Sesak karena menahan kesal, amarah dan keegoisan. "Apabila sendiri, kenapa mesti menunggu orang lain". Mungkin akan lebih menyenangkan bila tidak sendiri. Dan mungkin dengan kata "menyenangkan" sudah cukup. Sendiri, adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk tidak tergantung dengan orang lain, Pilihan untuk tidak menaruh sebuah harapan kosong. Pilihan untuk mempercayai dan menginginkannya padahal mungkin hasilnya hanya sebuah kehampaan. Itu adalah pilihan yang sering melukai, menyakitkan dan sangat menyesakkan. Benci sendiri, namun mungkin itu jauh lebih baik. Baik, untuk tidak terluka dengan sebuah pengharapan besar. Baik, untuk tidak menyesakkan hati lebih dalam. 
Memang benar, rasa seperti ini hanya diri sendiri yang mengalaminya. Orang lain mana tau, rasanya mengharapkan sebuah pengharapan besar, Namun begitu saja terpatahkan. Rasanya seperti melambung, dan begitu saja terjatuhkan. Sakit secara psikis. Titik-titik air itu pun tak henti mengalir, menahan rasa yang menyesakkan. Seharusnya aku sadar, menghadirkan orang lain, hanya membuat sesak itu terus ada. Harap yang telah menjadi kehampaan.

12:38 am
25 September 2011

Kamis, 28 Oktober 2010

obrolan hati

begitu banyak rasa yang di rasakan, kehilangan, kesedihan, kebahagiaan, pertemuan, perpisahan, kenangan, semuanya adalah proses. proses dalam pencapaian pendewasaan dalam hidup. namun gk berarti org yang banyak mengalami kehilangan bisa lebih tegar atau malah larut dalam kehilangan itu sendiri. selama dya masih larut, dya akan tetap terkunci dalam sebuah ruang hati tanpa peduli orang sekitar. hadapilah semua rasa itu dan selesaikan dengan cara yang bijak. semuanya adalah proses dan akhirnya adalah pencapaian pendewasaan. ketika kita memilih suatu jalan, maka di sanalah terdapat halangan dan hikmah. tak ada satupun pilihan yg luput dari dua hal tersebut.