Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Oktober 2018

#KAMISAN SEASON 4 : S04E02 - GALAU

Pic @jimmykhoo
Mengapa kopi menjadi candu?

Awalnya dia hanya kujadikan alasan melarikan diri darimu. Dia hanya jadi alasanku pada pengharapan pertemuan denganmu yang berakhir menjadi ruang kosong.

Mengapa kopi menjadi candu?
Ketika awalnya aku tak bisa merasakan nikmatnya, ketika awalnya aku hanya menikmati efeknya-terjaga semalam suntuk-. Setiap malam telah kutandaskan bergelas-gelas media kafein itu, bayangmu tak terbenam dan kian melekat.

I’m jealous of the rain
That falls upon your skin
Its closer than my hand have been
Owh I’m jealous of the rain

Awalnya aku ingin menghilang dari hidupmu, tepat ketika terakhir pertemuan di acara pernikahanmu. Sebuah pesta pernikahan sederhana. Taman yang beralaskan rumput hijau yang nyaman, beratapkan langit yang biru teduh. Berhiaskan bunga anggrek kesukaanmu pada latar pelaminanmu dan jua dinding ditiap sudut. Tak lupa lagu Perfect – Ed Sharon menjadi pengiring kemeriahaan kebahagianmu. Sebuah rangkaian sempurna yang sering kamu ceritakan padaku, ketika kamu akan menikah nanti. Dulu, betapa ingin sekali aku mewujudkannya. Aku selalu berharap, akulah yang ada dipelaminan itu bersamamu. Aku selelu berharap, akulah yang bisa membahagiakanmu tidak ada yang lainnya.

Dalam hati yang sakit, pikiran yang tak berfokus aku berdoa pada alam. Berharap gerimis itu tiba pada bahagiamu. Bukan sebagai gerimis yang romantis, tapi sebagai penanda bahwa ada yang terluka pada hari bahagiamu.

I’m jealous of the wind
That ripples throught your clothes
Its closer than your shadow
I’m jealous of the wind

Hari dimana aku mendapat kabar akan pernikahanmu. Aku berkhayal haruskah kugagalkan. Mungkin aku akan berlari menghadangmu sebelum kamu menuju ke altar, sebelum kamu di genggam oleh kekasihmu. Aku akan menarikmu, membawamu mendekap dalam pelukanku. Lalu aku berkata, bahwa selama ini ada yang memerhatikanmu lebih dari sekedar teman, ada yang menyayangimu lebih besar dari rasa sayang kekasihmu. Aku mohon padamu, jangan menikahinya.

Berulang kali aku memikirkan banyak cara untuk menggagalkannya. Akhirnya aku menyerah, aku mencoba tidak egois. Aku ingin lebih memikirkan perasaanmu. Bukankah kamu yang telah memilihnya, kamu yang sudah menjalani hubungan bersamanya selama dua tahun terakhir ini. Sedikitnya pembicaraan tentangnya saat bersamaku, kadang membuatku berfikir bahwa rasa yang aku miliki mungkin tidak hadir sendiri. Bahwa mungkin rasa yang aku miliki satu frekuensi dengan rasa yang kamu miliki. Nyatanya aku telah salah, semua pengharapan-pengharapanku tertepis. Saat kabar bahagia itu kamu utarakan, kabar yang menjadikan nyata bahwa rasa yang kumiliki telah pupus.

Berkali-kali aku membayangkan bersama siapakah, aku harus datang menghadirinya. Aku sering berkhayal, akan datang pada acaramu dengan menggandeng mesra seorang wanita. Seorang wanita yang kuharap dapat membuatmu cemburu ketika melihatnya. Aku berikan senyum terbaikku pada saat mengucapkan selamat padamu. Lalu aku akan berkata pada kekasihmu ‘tolong jaga dia dan buat dia bahagia’.

Atau aku tidak akan datang ke acaramu. Dengan alasan berpura-pura lupa atau sedang menghadiri acara lain yang kebetulan waktunya bersamaan. Atau dengan alasan aku sibuk pada pekerjaanku yang membuatku tidak memiliki waktu untuk dapat hadir dipernikahanmu. Bukankah itu cara-cara balas dendam yang normal. Cara membalas rasa kesal ketika mendapat kabar, perihal pernikahan seseorang yang sangat disayang.

Banyaknya kemungkinan-kemungkinan yang aku bayangkan, tanpa sadar aku telah menyakiti diriku sendiri. Aku telah mengoyak-ngoyak perasaanku sendiri. Adakah yang lebih bodoh dari ini ?

I wished you the best of
All this world could give
And I told you when you left me
There's nothing to forgive

Dulu, bagiku kopi hanya pelampiasanku pada rasa tertekan yang menyesakkan, pada rasa kesal yang sulit kuredakan. Kopi hitam yang saat ini aku konsumsi, sesungguhnya tidak cocok padaku. Tidak hanya membuatku berdebar-debar tidak karuan, tapi juga membuat pencernaanku terganggu. Biasanya aku lebih memilih kopi jenis cappucino untuk menghilangkan suntuk-suntuk perihal pekerjaan yang kadang menyebalkan. Ketika pekerjaan membuatku sangat tertekan aku akan lari ke kopi hitam kemasan dan itupun akan sangat jarang sekali terjadi. Dan aku tidak pernah bisa menghabiskannya.

Sejak kabar pernikahanmu datang, aku tidak lagi merasa cocok dengan kopi kemasan termasuk kopi hitamnya. Kopi kemasan yang semula sedikit pahit mendadak rasanya jadi terasa begitu manis. Bahkan terlalu manis. Aku beralih ke kopi bubuk yang kuracik sendiri takaran kopi dan gulanya. Kuseduh dengan caraku, air untuk menyeduhnya kubiarkan mendidih selama lima menit.

Caraku mengkonsumsi kopi telah berbeda. Dulu aku pernah berkata padamu, aku begitu tidak bersahabat dengan kopi terlebih lagi dengan kopi hitam. Bersamamu aku lebih menyukai senja dan hujan. Namun sejak hujan dan senja tidak lagi memihakku untuk hadir diacara pernikahanmu. Aku memilih untuk melepasnya, kemudian berteman dengan kopi dan bintang. Kini setiap pagi kujadikan kopi hitam temanku untuk menantang hari dan penyemangat diri bahwa pahitnya kopi telah memelukku demikian erat pada rasaku padamu yang melekat. Dan bintang menjadi sahabatku kala kenangan-kenangan bersamamu merampok sisa-sisa kesadaranku.

But I always thought you'd come back, tell me all you found was
Heartbreak and misery
It's hard for me to say, I'm jealous of the way
You're happy without me

Tiba saatnya hari pernikahanmu, aku tidak bisa memuat alasan untuk tidak menghadirinya meskipun aku memilikinya. Hari pernikahanmu sebenarnya sama dengan acara pernikahan temanku diluar kota. Bukankah itu alasan yang sangat bagus untukku, sebuah acara diluar kota sehingga aku tidak harus datang ke acaramu. Bodohnya aku tidak melakukannya, aku lebih memilih untuk hadir di acara yang melukaiku. Acara yang beberapa minggu lalu terus menerus datang ditiap malamku, membayangkan hal-hal seperti apa yang akan kulakukan untuk menggagalkannya.

Rencana-rencana yang awalnya aku pikirkan. Salah satunya itu hadir bersama wanita yang akan kugandeng dengan mesra. Seseorang yang kuharap kehadirannya bisa membuat api cemburu padamu, berharap pula bahwa pilihanmu menikah dengannya adalah salah. Lihatlah, aku datang seorang diri. Aku tidak membawanya bukan karena tidak ada. Aku tidak tahu mengapa aku tidak jadi melakukannya. Aku sendiri pun tidak mengerti alasannya, termasuk rencana mengatakan pada kekasihmu untuk berjanji membahagiakanmu dan menjagamu. Semua terasa kelu. Rencana-rencana itu luntur tanpa tindakan.

Ada rasa perih-perih di hatiku melihat tawamu,  mendengar ucapan terima kasihmu pada tamu yang hadir menyalamimu. Tiba saatnya ketika aku berjalan menuju pelaminan, haruskah aku memelukmu dan berucap selamat. Atau haruskah aku menepuk pundak kekasihmu dan berkata sesuai sekenario yang kupikirkan yakni berkata untuk menjaga dan membahagiakanmu. Lamat-lamat aku berfikir seperti orang bodoh saja bila mengucapkannya. Bukankah itu memang sudah menjadi kewajibannya untuk membahagiakan dan menjagamu.

Aku menyalami orang tuamu, aku mengucapkan selamat. Ibumu mengucapkan terima kasih atas kedatanganku. Memelukku dengan begitu erat dan berbisik, “lekas menyusul ya”. Aku tersenyum palsu untuk tidak mengecewakan hati ibumu.

Andai saja aku bisa berkata, tante andai bisa aku ingin menikahi putrimu. Lidah ini kelu, aku terlalu pengecut.  Jalan selangkah lagi, aku menyalamimu. Mengucapkan selamat, entah selamat untuk apa. Selamat untuk kebahagiaanmu ataukah selamat untuk rasaku yang pupus. Saat tangan ini menggenggam tanganmu, kamu menarik tubuhku, memelukku dan berbisik. “jangan pulang, kita foto dulu untuk kenang-kenangan”. Tidak ada senyuman, tidak ada kata-kata meluncur pada bibir ini. Hanya seuntas senyum dipaksakan yang bisa kupersembahkan.

Foto bersama katamu, untuk kenang-kenangan katamu. Haruskah luka ini kukenang. Aku ingin pulang secepatnya. Aku ingin meninggalkan segera tempat terkutuk ini. Masih adakah alasanku untuk bertahan. Aku tidak tahu harus menyebut diriku sendiri ini sebagai orang bodoh, tolol atau dungukah. Saat aku memutuskan untuk berdiri disampingnya dan mengabadikan moment itu menjadi sebuah gambar bersama dengan kekasihnya.

I'm jealous of the nights
That I don't spend with you
I'm wondering who you lay next to
Oh, I'm jealous of the nights
I'm jealous of the love
Love that was in here
Gone for someone else to share
Oh, I'm jealous of the love

Katanya jika kita mencintai seseorang, cintailah ia habis-habisan meski kadang yang kita lakukan justru melukai kita. Karena dengan cara begitu akan lahir keikhlasan. Rasa - rasa yang tidak lagi tersisa dan akan tiba waktunya  memutuskan untuk melepasnya. Telah kulakukan cara tersebut, namun rasa ini tidak pernah tandas dan selalu tersisa yang menyebabkannya selalu bertambah. Rasa itu memang tidak bisa dipaksa, tapi rasa juga tak bisa dilenyapkan semudah seperti yang dikatakan oleh teori.

Adakah yang lebih candu selain merindumu, meski kutahu bahwa semua rasamu tak pernah tersaji untukku dan tak pernah tercipta untukku. Adakah yang lebih menyiksa selain membiarkan rasa ini selalu tumbuh meski sering kali kubunuh. Sudah beberapa bulan sejak hari pernikahanmu kuhadiri, sejak beberapa bulan itu pula aku terus menghindarimu mencoba melenyapkan rasa-rasa yang pernah kusiram dengan begitu subur.

Kuberlari kesana dan kemari, menyibukkan diri dengan segala hal yang bukan tentangmu. Begitulah kamu yang menjadi candu, semakin kupergi untuk menjauh semakin pula rindu-rindu ini mencak-mencak untuk mengintip kabarmu. Hingga pelarian darimu pun gagal kulakukan, aku kembali memeluk kenangan bersamamu dalam sepi bersama kopi hitam yang pekat.

Aku melihat-lihat foto-foto kenang-kenangan tentang kita, aku merasa waktu begitu singkat untuk kita. Menghabiskan waktu bersama, saling bertukar cerita tanpa celah hingga yang tersisa hanyalah tawa-tawa. Tidak ada temu yang tercipta pada hari terakhir dipelaminan itu, tidak kamu juapun aku untuk berinisiatif menawarkan ajakan jumpa. Seolah masing-masing kita telah menarik diri dan menciptakan tembok yang bernama orang asing.

As I sink in the sand
Watch you slip through my hands
Oh, as I die here another day, yeah
'Cause all I do is cry behind this smile

Mungkinkah ini cara terbaik sebagai langkah awal untuk saling melupakan. Mungkinkah ini pula langkah tepat untuk tidak lagi menciptakan rasa-rasa yang seharusnya terlarang. Aku tidak tahu dan sungguh aku tidak mengerti, hingga akhirnya aku memutuskan untuk tetap menjalaninya saja. Menjalani sisa-sisa rasa yang masih saja sulit untuk ditenggelamkan.

Sudah tiga tahun berlalu sejak hari sialan itu, hari terakhir aku bertemu denganmu. Kopi dan bintang masih menjadi teman setiaku. Tak pernah kulepaskan diriku tanpa seharipun untuk menyesap kopi hitam. Termasuk hari ini saat aku sedang duduk menikmati pemandangan gunung Gede yang menjulang dengan cantiknya. Berhiaskan cahaya lampu-lampu yang terpancar dari rumah-rumah yang bermukin ditubuhnya. 

Malam ini aku sendiri menikmatinya. Tempat dimana, dulu aku menghabiskan banyak cerita bersamamu. Sungguh malang diriku yang masih saja bermain-main pada kenangan yang tak bisa kulupakan. Setiap kali bereuforia dengan perasaan itu, aku hanya bisa tersenyum kecut sambil memandang bintang buatan dimuka bumi. Aku telah mencintamu begitu banyak hingga tak ada lagi yang tersisa untukku, untuk mencintai diriku sendiri.

Lamunan-lamunanku terhenti ketika lenganku tersentuh oleh seseorang. Seorang anak kecil yang jatuh disampingku. Dia sedang bermain sambil berlari dan tidak sengaja menabrak di tempatku sedang duduk. Aku dengan spontan menghentikan lamunanku dan membantu membangunkan anak tersebut. Tidak seperti anak kebanyakan yang menangis ketika terjatuh. Anak ini sungguh kuat dia hanya tersenyum lalu mengucapkan permintaan maaf padaku.

Otomatis senyumku mengembang, tersenyum padanya dengan tingkahnya. Aku membantu mengusap lututnya yang mungkin saja kotor dan mengelus rambutnya seraya berkata, “tidak apa-apa lain kali hati-hati ya”. Tidak lama ada suara yang hadir memanggilnya. Anak tersebut langsung berlari menuju suara itu berasal. Aku merasa familiar dengan suara ini, suara yang mungkin begitu lama aku rindukan. Aku memberanikan diri untuk membalikkan tubuhku.

Seperti adegan dalam sebuah film, pertemuan yang tidak terduga dengan seseorang yang baru saja aku kenang. Aku memandangnya dengan begitu lekat, kerinduan yang hanya bisa aku tunjukkan pada mata ini. Adakah kamu juga merasakannya, merasakan rindu yang begitu lama terbenam. Kamu tersenyum, ah sebuah senyum yang selalu kurindui. Kamu bertanya akan kabarku, sebuah basa basi yang biasa dilakukan oleh dua orang yang sudah lama tidak bertemu. Tidak luput diriku jua menanyakan perihal yang sama. Sebuah basa basi busuk yang menurutku telah meruntuhkan seluruh kerinduan yang selama ini kubendung. Aku bertanya padamu apakah dia anakmu, kamu mengangguk, sebuah jawaban tanpa kata.

Kamu memanggil anakmu untuk menghampiriku, memintanya untuk memperkenalkan diri. Anak itu menyebutkan sebuah nama yang membuatku tertegun. Nama yang sama denganku. Aku terkejut mencoba mencari jawaban dari pertanyaan-petanyaan dalam kepalaku. Aku memandangi anak kecil itu dan kamu. Namun jawaban itu masih menimbulkan kebingungan yang belum kupahami. Tanpa memberikanku sebuah penjelasan, kamu berpamitan padaku. Meninggalkanku yang masih dalam kebingungan pada peristiwa yang baru saja terjadi.

Anak kecil itu berlari menghampiriku kembali, meninggalkan ibunya. “Tante lain kali main sama aku ya.”

Sebuah kertas diberikannya padaku, katanya dari ibunya. Dia tersenyum dan meninggalkanku sambil melambaikan tangannya. Sebuah senyum riang yang tak bisa kulupakan. Aku membuka lipatan kertas yang diberikannya.

Tidak ada yang setuju pada sebuah rasa yang tercipta diantara kita. Tidak mereka, tidak jua Tuhan. Kita hanya bisa membenamkan rasa itu pada doa. Doa yang menjadikan dirimu dan diriku bersatu.  

 Song : Labrinth - Jealous
04 Oktober 2018

Senin, 27 Januari 2014

Harusnya Kau Memilih Aku

Saat akan memasuki rumah, aku melihat mama setengah badannya sudah ada di antara pintu. Melihatku ke arahnya, langkahnya berbalik masuk ke dalam rumah. Aku mengikutinya. Mama memberikan segelas air mineral. Rutinitas yang selalu mama lakukan, ketika aku pulang kerja. Aku memperhatikan wajahnya. Astaga!!

“wajah mama kenapa? Di pukul lagi sama lelaki berengsek itu??” tanyaku emosi.

Aku menyentuh wajah mama, Namun di palingkanlah wajahnya itu.

“jangan kamu bilang dia lelaki berengsek. Dia itu papa kamu.” Jawab mama mulai menanggis.

“ papa?? Papa tiri iya, dan aku tidak pernah menganggapnya sebagai papa. Dia itu nggak jauh beda, sama orang gila satu itu. Selalu nyakitin mama. Mau sampe kapan sih, mama ngebela dia??” suara ku mulai meninggi.

“mama sayang papa tirimu. Mama …..”

“ma, kalo dia emang sayang nggak gini caranya. Mukul mama, terus nanti tiba-tiba datang baik-baikin mama. Dia sayko ma, kenapa sih mama nggak pernah mau dengerin aku.”

“sayang, dia nggak seburuk yang kamu pikir.” Mama lebut menyentuh rambutku. Namun aku tepis.

Semakin lama berdebat dengan mama. Membuatku kehilangan kendali. Aku memutuskan masuk ke dalam kamar. Pintu kamar ku banting sekeras-kerasnya. Bukti kalau aku sudah bosan dengan obrolan semacam ini.
Aku menanggis. Jujur saja, sebenernya aku juga tidak ingin membentak mama seperti itu. Aku sedih mama mendapat perlakuan seperti itu. Tapi sepertinya mata mama sudah buta pada lelaki berengsek itu. Aku menanggis, memukul diriku sendiri. Hingga akhirnya aku terlelap dalam tidurku.

Sinar mentari itu masuk lewat celah jendela kamarku. Menyentuh mataku, memaksaku untuk segera beranjak dari tempat tidur ini. Aku berjalan ke kamar mandi membasuh wajahku dan menyikat gigi. Aku keluar kamar. Aku mencari mama, namun setiap sudut ruangan yang aku cari. Aku tidak berhasil menemukannya. Pasti lelaki berengsek itu sudah menjemputnya. Kenapa sih mama, mudah sekali terbujuk. Apakah cinta itu begitu membutakan. Menganggap perlakuan kasar itu bentuk dari cinta ?

Aku mengambil air mineral di kulkas dan mulai meneguknya. Aku mulai mengingat-ingat. Bagaimana bahagianya mama, ketika pertama kali mengenalkan lelaki itu padaku. Aku tidak sanggup merusak kebahagiaannya, meski aku tidak ingin memiliki papa tiri. Aku tidak butuh papa, aku sanggup membiayai hidup mama. Bila itu adalah alasan, mengapa mama ingin menikah lagi. Namun kalimat itu tidak pernah lancar aku ucapkan pada mama.

Mereka menikah ketika aku lulus sekolah menengah pertama. Aku menolak, untuk tinggal bersama ketika mereka memintanya. Aku lebih memilih tinggal di rumah peninggalan nenek, dengan alasan ingin merawat rumah yang sudah tidak terurus. Mama tidak setuju, tapi aku selalu meyakinkan tidak alasan lain selain alasan itu. Lelaki itu, adalah satu-satunya alasan terbesar aku menolak tinggal bersama mama. Meski setiap malam aku selalu menanggis, rindu pelukkan mama.

Mama sering menjenggukku. Datang membawakan makanan kesukaanku. Atau kita kadang suka menghabiskan akhir pekan bersama. Memasak, berkebun atau sekedar bercerita di taman belakang. Aku sering bertanya, ketika mendapati lebam pada bagian tubuhnya. Mama selalu bilang, lebam itu karena dia kurang hati-hati. Sehingga sering terjatuh. Aku ingin mempercayainya, tapi hatiku terus menyangkalnya.

Itensitas kedatangan mama, semakin lama semakin berkurang. Kadang beberapa kali akhir pekan, aku sering melewatinya sendirian. Pernah suatu hari, begitu besarnya rinduku pada mama. Aku mendatangi rumah mereka. Aku sengaja tidak memberitau mama, aku membelikan makanan kesukaannya. Dengan riangnya, aku bernyanyi sepanjang perjalanan ke rumah mama. Sesampainya di rumah itu, aku mengetuknya. Sengaja tidak mengucapkan salam, karena ingin memberikan sedikit kejutan.

Pada ketukanku yang kesekian. Pintu terbuka. Mama di hadapanku. Wajahnya terkejut, sama terkejutnya seperti wajahku. Ada jeda sesaat, saat mata ini saling menatap.

“aku rindu mama. Aku datang membawa makanan kesukaan mama.” Kalimat itu akhirnya aku luncurkan.
Mama menangis, memelukku. Aku membalas memeluknya.

“mama juga rindu kamu sayang.” Ucapnya sambil menanggis terisak.

Aku melepaskan pelukannya. Menatap wajahnya, membelai wajahnya, menghapus air matanya.

“ apa karena ini ma, mama nggak mau datang menjenggukku ?” Aku membelai luka lembam pada wajahnya. Mama meringis, mungkin sakit saat aku membelainya.

Mama diam, tidak menjawab pertanyaanku. Aku sedih. Aku emosi. Namun aku berusaha sebisa mungkin menahan emosiku. Aku tidak ingin membuat mama semakin sedih.

“sejak kapan ma, dia mulai berlaku kasar seperti ini ? Apa yang terjadi pada pernikahan kalian ?” pertanyaan ingin tahu ku bermuculan menanti jawaban.

“tidak sayang, ini bukan karena dia. Ini karena….” Aku memotong ucapan mama.

“sudahlah ma! Mama mau bilang, ini terjatuh karena mama nggak hati-hati. Aku sudah dewasa ma, aku tau mana luka lebam karena jatuh. Mana luka penyiksaan.” Nadaku berisikan emosi tertahan yang mencibir lelaki itu.

“nanti ketika kamu sudah menikah, kamu akan mengerti sayang.” Jawab mama kemudian.

“aku ngga akan menikah ma! Kalau pernikahan menghasilkan hal-hal seperti ini.”

Mama terdiam. Mungkin terkejut dengan jawabanku.

“sini aku bantu obati luka mama.” Aku menghiraukan ekspresi mama, mulai mencari kotak P3K.

Sejak mengetahui perihal tersebut. Aku diminta mama untuk berjanji. Agar tidak menjengguknya lagi, mendatangi rumah itu. Aku mengiyakannya, asal mama tetep menjenggukku meski dengan luka lebam sekalipun. Akhir pekanku tidak pernah sepi. Mama sering menginap di rumah ini. Apalagi saat lelaki itu pergi sampai berhari-hari. Entah apa yang di lakukan lelaki berengsek itu. Aku tidak peduli. Aku selalu berdoa, agar lelaki itu tidak pernah hadir kembali dalam kehidupan mama.

Beberapa minggu terakhir ini. Aku melihat mama begitu bahagia. Luka-luka pada tubuhnya pun kian berkurang. Aku kadang berfikr, sudah berubahkah lelaki itu. Tapi hati kecilku berfikir berbeda.

“sayang kamu nggak mau tinggal bareng sama mama di rumah itu ?” Tanya mama saat kita sedang menikmati udara sore di taman belakang.

“bukannya mama meminta aku berjanji untuk tidak ke rumah itu lagi ?” Aku menyenderkan kepalaku pada bahu mama.

aku lebih suka mama disini, bersamaku. Tanpa lelaki berengsek itu” jawabku dalam hati.

“sayang, kamu tidak usah takut melanggar janji. Kita sudah pindah rumah, lagi pula papamu sudah banyak berubah. Dia sudah tidak mengasari mama lagi.“

“dia bukan papaku. Dia papa tiriku.” Ucapku tegas.

Mama memberikan secarik kertas padaku. Aku mengambilnya, mengeja, membaca alamatnya.

“aku tau alamat ini ma, aku sering maen ke daerah sini. Tapi aku lebih suka di sini ma. Kalau aku bersama mama, rumah ini tidak ada yang mengurus. Aku tidak ingin nenek sedih.”

Alasan klise. Mungkin mama juga sudah tau, alasan utama aku tidak bersama mereka adalah aku tidak bisa menerima lelaki itu menjadi papaku.

Hari-hari indah bersama mama seperti berakhir. Mama jadi jarang datang kembali. Aku berfikir mungkin sibuk dengan pekerjaannya yang baru. Aku pun juga sibuk dengan pekerjaan dan kuliahku. Hingga tadi malam, aku melihat wajah mama. Aku mengerti alasan mengapa mama tidak pernah datang ke rumah. Lelaki berengsek itu mulai berulah.

Aku meneguk lagi air mineral itu. Aku berjalan ke kebun belakang. Duduk di gazebo. Menikmati angin semilir. Menatap pohon kamboja putih. Pohon yang aku tanam berdua dengan mama.

“ma, aku sayang mama. Tapi kenapa mama lebih memilih bersama lelaki berengsek itu. Lelaki yang sudah jelas-jelas tidak menyayangi mama. Kalau dia memang sayang sama mama. Dia tidak akan melakukan perbuatan seperti ini ke mama.”

Air mataku menetes. Menangisi setiap kejadian yang di alami mama.

“mama…. mengapa kamu begitu menyukai sekali berteman dengan kesakitan. Padahal aku punya banyak kebahagiaan untuk mama.”

Titik-titik air itu datang beriringan. Membasahiku, membangunkanku yang tidak sengaja tertidur. Aku berlari masuk ke dalam rumah. Hujan yang sangat deras, mendatangi sore ini.


24 September 2013


Sumber foto : www.wishingbaby.com

Jumat, 02 Agustus 2013

Kamu, Aku dalam perbincangan,.


Kamis itu ingin sekali aku jadikan hari wajib kita untuk bertemu. Aku sadar, bahwa itu hanya mimpi. Kamu pun menyadarkannya, bahwa itu memang hanya mimpi. Perkenalan kita mungkin tidak memiliki arti. Mungkin juga tidak meninggalkan kesan yang bisa kamu kenang. Semua biasa, mungkin termasuk perasaanmu padaku. Biasa.
Kita bertemu, tanpa terencana. Termasuk berkenalan denganmu.  Dan menjadikan obrolan kala senja itu menjadi istimewa.
“Terimakasih ya, untuk bincang-bincangnya sore ini. Sungguh menarik. Tidak menyangka menemukan teman ngobrol semenarik kamu.” Ucapku tulus. Kala perpisahan mulai mengakhiri pembicaraan kita.
“Sama-sama, senang juga berkenalan sama kamu.” Kamu tersenyum, berpamitan dan beranjak pergi. Meninggalkan sisa-sisa tawa yang masih terngiang.
Aku bisa melihatnya. Bertemu dan berkenalan denganku adalah hal yang biasa bagimu. Termasuk berbincang denganku. Aku masih diam, duduk dan mulai menghabiskan sisa kopi yang telah mendingin.
Pandangan ku alihkan ke langit. Gelap. Seperti inikah hatiku. Aku melihat ke sekitar. Sepi. Seperti inikah suasana diriku. Sepertinya itu sebelum bertemu denganmu. Pertemuan pertama denganmu, sungguh menarik perhatianku. Inikah, jatuh cinta pada pandangan pertama. Sesuatu yang ku kira, mungkin hanya mampu terjadi dalam cerita.
Aku memandang jauh ke depan. Begitu banyak kerlipan lampu kota menghiasi pemandangan di café ini. Kegelapan yang mengindahkan. Mungkin ini yang tengah aku rasakan saat ini. Bisakah aku menemuimu sekali lagi. Ah, tidak. Aku ingin menemui sebanyak waktu yang di sajikan Tuhan untukku bernafas di dunia.
Aku beranjak dengan malasnya, meninggalkan tempat perbincangan aku dan kamu.  Berjalan dengan perasaan hangat menuju kasir, melakukan pembayaran.
“Maaf permisi, ada yang tertinggal. Ini sepertinya catatan penting, tadi saya menemukan di meja yang anda duduki.” Pelayan café itu menyerahkan secarik kertas padaku. Aku menerimanya. Sepertinya ini catatan milikmu. Senyumku mengembang. Benarkan, Tuhan memberikan jalan untuk kita.
Kamu, kenangan di penghujung senja.
Bolehkah aku bertanya. Mengapa waktu, tidak pernah menjadikan kebersamaan kita bertahan lebih lama dari sisa usiaku. Mengapa waktu, tidak pernah mengijinkan aku untuk memiliki kenangan lebih banyak bersamamu. Tawaku, sedihku ikut hilang bersamamu. Hatiku, jiwaku ikut pergi bersamamu. Namun Kau selalu diam, membiarkan aku terdiam disini merasakan kehampaan.
“Tuhan apa yang sedang terjadi pada hatimu. Kehilangankah dirimu ?”
Aku melipat kertas itu kembali. Menyimpannya baik-baik, agar kelak bisa menjadi alasan menyapa. Ketika Tuhan mengijinkan pertemuan tercipta di antara kita.
Aku meninggalkan café itu, menuju pelataran kendaraanku terparkir. Aku membalikkan tubuhku sebentar, menatap café itu kembali.
semoga ini tidak menjadi yang pertama dan terakhir pula, aku bertemu denganmu. Wahai pemilik kenangan senja.
*********
Empat minggu kemudian, masih di hari kamis……
“Kamu, yang waktu itu ngobrol bareng-bareng sama aku kan?” Suara itu membuyarkan lamunanku.
Aku menoleh ke asal suara itu. Ada kamu. Seseorang yang aku tunggu kehadirannya beberapa minggu ini. Seseorang yang mampu menggetarkan hatiku sejak pertama kali bertemu. Seseorang yang membuatku, mungkin jatuh hati padanya.
Aku menatapnya. Masih mata yang sama. Masih senyum yang sama. Ah, senangnya kamu masih mengingat aku. Sudah berpuluh kali aku mengunjungi café ini, berharap bertemu denganmu. Berharap aku memiliki keajaiban itu.
“Kok benggong sih ?” kamu bertanya kembali. Mungkin heran melihat reaksiku.
“Ah, iiyaa. Aku yang waktu itu. Ma..aaf.” Sial, mengapa aku jadi gugup begini. Kira-kira apa yang kamu pikirkan dengan sikapku yang kaku ini.
“Maaf buat apa? Kamu aneh. Boleh dong, aku ikut gabung. Sendirian kan?” Kamu memandang bangku kosong di sebelahku.
“Silahkan, aku selalu sendirian bila kamu datang menghampiri mejaku.” Astaga, lancang sekali aku. Di pertemuan ke dua sudah berani merayumu. Aku melirik wajahmu, mencoba menebak seperti apa reaksimu.
Wajahmu terlihat datar. Seolah tidak menanggapi godaanku. Dan sungguh aku memang tidak sedang menggodamu. Kamu menarik kursi di sebelahku. Kamu kini duduk di hadapanku. Dan aku bisa memandang wajahmu lebih lama lagi. Aku tersenyum.
Kamu memandang langit yang mulai berjingga. Mentari perlahan-lahan mulai menyembunyikan dirinya. Memberikan kesempatan untuk sang bintang. Melindungi masing-masing manusia yang hidup di bawah gelapnya malam.
“Kenapa tidak mencari teman ? Menikmati senja seindah ini sendirian, apakah itu sudah lengkap menurutmu?” tanyamu tanpa memandangku.
“Bukankah hari ini aku sudah memiliki teman, yang menemaniku menikmati senja.” Aku memandang wajahnya. Menunggu reaksinya. Aku tidak peduli lagi, kamu akan mengira aku menggombal. Aku hanya ingin menciptakan kenangan, bersamamu.
Kamu tidak menjawabnya. Kamu hanya tersenyum. Senyum yang manis, membuat bibirku pun ikut mengulumkan senyum. Senyum yang melatahkan senyumku.
“Kamu sendirian saja?” Kali ini aku yang belik bertanya.
“Menurutmu?”
Sial. Kamu balik bertanya padaku. Ah, biarlah. Aku menikmati kebersamaan ini.
Kita bercerita tentang banyak hal. Tentang aku. Tentang kamu. Seperti teman lama yang sedang menikmati kenangan. Saling tertawa, saling bergurau. Kebersamaan yang sungguh menyenangkan. Kebersamaan yang tercipta dengan natural. Lepas, tanpa beban.
Beberapa waktu, kita saling terdiam. Mungkin sibuk dengan pemikiran masing-masing. Kamu dengan pikiranmu, entah membayangkan apa. Aku dengan pikiranku, sibuk membayangkan kamu. Membayangkan kamu berlama-lama menemaniku di sini.
“Apakah ini kertas milikmu ?” tanyaku sambil menyodorkan kertas yang kulipat rapih dan selalu ku simpan di tempat yang aman. Kertas yang tempo hari, di berikan pelayan untukku. Kertas yang katanya tertinggal di tempat kita pertama kali berbincang.
Kamu mengambil kertas itu, dan mulai membuka lipatan-lipatannya.
“Ini memang milikku, pasti tidak sengaja tertinggal saat kita bincang-bincang waktu itu ya? Terima kasih.”
Kamu tersenyum. Kamu mulai merobek kertas itu. Aku binggung, mengapa tulisan sebagus itu harus di robek. Tapi aku tidak bertanya. Aku lebih memilih untuk diam. Aku hanya terus memperhatikan. Kamu.
“Kadang hal sebagus apapun, bila waktunya telah berlalu. Hanya akan tetap menjadi kenangan, bukan? Tidak mungkin menjelma kembali ke masa nanti.”
Usai mengatakan kalimat tersebut. Kamu tersenyum kembali. Menatap senja yang semakin indah. Kita pun kembali terdiam dalam waktu yang lama.
Kamis-kamis berikutnya. Menjadi rutinitas kita. Bertemu, bercerita dan tertawa. Dari sekian banyak hari, entah mengapa selalu hari kamis. Perjumpaan kita sering tercipta. Mungkin karena aku hanya datang pada hari kamis ke café itu.
********
“Namamu siapa ?” Aku bertanya padamu. Kala perjumpaan kita yang kesekian kalinya. Masih di café yang sama. Masih di hari yang sama, kamis.
“Seberapa penting sih, arti sebuah nama buat kamu ?” kamu tersenyum.
Senyum yang selalu aku suka.
“Penting sekali. Bila aku bertemu denganmu selain di tempat ini aku bisa berteriak memanggil namamu. Tidak dengan sebutan eh eh eh. Siapa tau dengan mengetahui namamu, aku bisa mengajakmu lebih lama berbincang di sini. Tidak untuk saat ini saja, tapi juga esok dan seterusnya. Siapa tau namamu bisa aku ukir di hatiku.”
Seusai mengatakan pengakuan itu. Kamu menatapku lebih lama dari biasanya. Mungkin mencoba mencari kejujuran dari setiap kata yang aku ucapkan. Atau mungkin sedang mencari kebohongan dari setiap kata yang aku utarakan.
Kamu terdiam lama sekali, kemudian tersenyum. Kamu memalingkan wajahmu menatap langit yang kini mulai merona.
“Kamu percaya yang namanya keajaiban. Atau kamu percaya dengan yang namanya takdir. Biarlah Tuhan memberikan jalan. Apakah kita memiliki takdir yang sama. Ataukah keajaiban kita, memiliki jalan yang berbeda. Aku, kamu dan takdir. Biarlah dipertemuan selanjutnya, aku yang akan bertanya siapa namamu. Saat itu, takdir kita yang akan menentukan.”
Aku terdiam, mencoba mencari-cari jawaban dari rangkaian kata-kata yang kamu ucapkan. Sebelum aku menyadari sesungguhnya makna ucapanmu. Kamu telah berpamitan untuk beranjak dari bangku bincang kita. Aku hanya mengangguk dan tersenyum, mengantar kepergianmu. Hilang, meninggalkan punggung yang tidak pernah ku lihat kembali sosoknya. Untuk esok, lusa dan seterusnya.
*******
Masih di café yang sama. Masih dalam suasana yang sama. Aku menunggumu, sesuai pesan yang kamu sampaikan pada pelayan kala aku datang waktu itu. Mencarimu.
Aku menunggumu. Hari ini. Belum ada kamu. Hanya ada aku. Diam, menikmati senja dan kenangan kita yang sesaat.
Aku masih menunggumu. Hingga senja itu perlahan lenyap dalam pandanganku. Berganti gelap. Memunculkan cahaya lampu kota dari kejauhan.
“Permisi mbak, ada titipan surat buat mbak.” Pelayan café itu memberikan selembar kertas yang terlipat rapih di bungkus dengan amplop.
“Dari siapa?” tanyaku heran. Seperti jaman dulu saja, mendapat surat.
“Dari orang yang sering ngobrol berdua sama mbak di sini tempo hari itu, katanya kalo mbak datang ke sini tolong surat itu di kasi ke mbak.” Ujar pelayan itu memberikan penjelasannya.
Aku menerima surat itu. Membukanya perlahan dan mulai membacanya.
Kamu, kenangan di penghujung senja.
Bolehkah aku bertanya. Mengapa waktu, tidak pernah menjadikan kebersamaan kita bertahan lebih lama dari sisa usiaku. Mengapa waktu, tidak pernah mengijinkan aku untuk memiliki kenangan lebih banyak bersamamu. Tawaku, sedihku ikut hilang bersamamu. Hatiku, jiwaku ikut pergi bersamamu. Namun Kau selalu diam, membiarkan aku terdiam disini merasakan kehampaan.
Aku tersenyum. Kalimat itu masih saja kamu ingat. Kalimat tentang kenangan laluku. Kalimat yang pernah kamu baca. Kala kertas itu tertinggal saat perjumpaan pertama kita.
“Kamu mau bermain teka teki denganku ya ?” Ucapku dalam hati.
Aku melanjutkan kembali membaca suratmu.
Aku percaya kamu datang, mencariku. Masih melihat senja yang sama. Senja yang sering kita lihat bersama. Aku menunggumu, selalu. Hingga aku sadar, waktu ku tidak lagi banyak. Bila senja telah lenyap, dan aku tidak datang. Aku menitipkan surat ini, untuk di berikannya padamu. Surat ini pengganti kehadiranku. Aku kini hanyalah debu. Terhempas udara, melayang, terdapar. Entah mendarat dimana. Tapi aku selalu berdoa kepada Tuhan. Lewat udara, biarkanlah debu ini terhisap masuk kedalam paru-parumu. Agar aku bisa bermukim lama dalam tubuhmu. Menyatu bersama jiwamu. Mengukir namaku di sanubarimu.
Membicarakan takdir dan keajaiban. Kamulah keajaiban yang di hadirkan Tuhan untukku. Tapi takdir Tuhan tidak berpihak padaku. Dia tidak pernah membiarkan aku mengetahui namamu. Nama yang selalu ingin aku sebut dalam tiap mimpiku. Aku tidak ingin egois dan membuatmu penasaran. Bila kamu ingin mengetahui namaku. Kunjungilah aku, di pemakaman utara dekat pohon kamboja putih. Disana aku melihat senja yang sama dengan yang kamu lihat hari ini.
Aku, debu diantara senja.
Air mata ini menetes tanpa bisa aku cegah.
Mengapa harus begini Tuhan, mengapa harus aku mengalaminya lagi. Aku meninggalkannya karena aku ingin percaya, pertemuan dengannya tidak berarti apa-apa. Tapi aku salah, pertemuan singkat dengannya memiliki arti. Aku hanya meninggalkannya sebentar. Aku hanya ingin percaya takdir dan keajaiban ada untuk aku dan dirinya. Meski aku tidak mengatakan begitu padanya. Aku hanya ingin mencoba meyakinkan hatiku. Bahwa dengannya aku mampu melepaskan masa lalu ku. Bahwa dengannya, aku mampu membuka lembar baru tanpa menjadikannya pelarian. Hingga aku telah memantapkan hatiku. Aku ingin berkata padanya, “aku tyas, Seraningtyas. Mengijinkan kamu, untuk mengukir namaku di hatimu.” Namun kalimat itu hanya angin, yang tak sempat aku ucapkan padanya.


06:14 pm
25 Juli 2013

catatan :
Cerpen ini tadinya ingin di ikuti dalam #1bulan1cerpen pada @klubbuku, tapi nggak jadi. Karena ketika menanyakan pendapat teman. Cerpen ini tidak pada tema penyesalan, tapi ke tema jual mahal. Aku hanya tersenyum mengingatnya, dan membiarkannya tetap ada di blog ku :) 

Minggu, 23 Juni 2013

Perbincangan singkat, Orang asing

Hari itu aku berjalan, mengikuti kemana kaki ini ku langkahkan. Menyusuri sepanjang jalan yang di teduhi pohon-pohon cemara yang begitu gagahnya. Berdiri berjajar dengan rapihnya. Semilir angin menyejukkan, membelai lebut pada kulitku. Sebuah kota kecil yang tanpa polusi, masih segar ku hirup udara pagi ini. Begitu banyak ku cermati orang-orang yang tengah sibuk dengan dunianya sendiri. Sama seperti ku, yang tengah sibuk dengan diri sendiri.
Aku adalah manusia biasa saja, dengan kehidupan yang begitu datar. Sama seperti harapan-harapan yang begitu datar pula. Aku bosan, aku jenuh selalu melakukan hal-hal itu. Sejak aku masih kecil hingga saat ini sesungguhnya aku mampu untuk memilih. Namun pada kenyataannya tak ada pilihan-pilihan yang mampu ku pilih. Semua telah terencana dengan sangat rapih. Hingga aku merasa hidupku terlalu monoton. Banyak yang iri dengan kehidupan yang aku punya. Banyak pula yang mengatakan, “seandainya saja bisa aku ingin sekali menggantikan posisi di hidupmu”. Andai mereka tau, betapa hampa kehidupan yang aku jalani ini. Ingin aku juga mencoba menukar dengan kehidupan mereka. Kita pun sama-sama tau hal seperti itu tidaklah mungkin.
“aduuuuuuhhh”. Aku secara reflek menoleh ke asal suara tersebut. Aku melihat seorang gadis tengah merintih, memegang lututnya. Aku menghampirinya, bermaksud menawarkan pertolongan.
“kenapa mbak, ada yang bisa saya bantu?” tanyaku ramah.
Wajah itu menatapku heran, kemudian menatapku lebih tajam seolah sedang mengamati setiap garis pada wajahku.
“ mbaaaaakk”, ucapku membuyarkan lamunannya.
“ahhh, maaf.. gak usah saya bisa sendiri kok”. Dia berusaha bangun, dari tempat ia terjatuh, namun usahanya gagal. Sepertinya luka di lututnya itu, membuat ia susah untuk menggerakkan persendian pada kakinya. Aku dengan reflek membantunya berdiri, tapi tanganku di tepisnya.
“saya kan sudah bilang bisa sendiri, jangan sok baik sama saya” ucapnya ketus.
Aku hanya diam mematung, dan memerhatikan tindakannya yang sedang berusaha untuk berdiri namun gagal terus.
“udah jangan belagu, aku baik sama kamu ada maksudnya kok. Jadi jangan seneng dulu” ucapku kemudiam.
Aku membantunya berdiri, dan membawanya ke tempat duduk yang berada 10 meter dari tempat dia terjatuh. Meskipun dalam perbantuan itu mata tajamnya terus menatapku, seolah aku adalah penjahat yang ingin mencelakainya. Namun aku tidak memperdulikannya.
kenapa sih mau menolong saja, susahnya minta ampun” kataku dalam hati.
“jangan menatapku seperti itu, risih tau” ucapku akhirnya, karena tatapan itu seolah menghakimiku.
“maaf…baik kamu mau apa dari perbuatan baikmu yang telah menolong saya?” Tanya nya ketika aku telah membantunya duduk di bangku taman itu. Tidak lama dia pun mulai sibuk mencari-cari sesuatu di dalam tasnya.
“aku hanya ingin berbincang-bincang denganmu, menghabiskan waktu sore ini, boleh?”
Astaga lancang sekali aku berbicara seperti itu padanya. Pasti dia mengira aku sama saja dengan orang lain yang sengaja mengambil kesempatan untuk berkenalan. “dia pasti memakiku” ucapku dalam hati.
“baiklah, tidak buruk juga sekalian saya menunggu pacar saya datang untuk menjemput”. Aku terkejut, tidak menyangka responnya begitu baik. Mengingat sikap ketusnya di awal pertemuan tadi.
“tapi sebentar ya, saya telpon pacar saya dulu” ucapnya selanjutnya. Beberapa detik kemudian dia tengah sibuk dengan ponsel genggamnya, menghubungi seseorang yang katanya adalah kekasihnya. Aku menunggunya, sambil memerhatikan setiap tingkahnya.
“kenapa memandangi saya seperti itu?” tanyanya. Membuyarkan lamunanku, aku pun binggung tak mengerti mengapa bisa bersikap seperti ini.
“maaf” hanya itu yang keluar dari mulutku.
“kamu ingin berbincang-bicang apa sama saya, kamu punya waktu 15 menit lagi sampai pacar saya datang.” Dia pun mulai menatap mataku.
Aku hanya membuang mukaku, mematahkan tatapannya dan mengarahkan tatapanku memandang langit yang mentarinya mulai meredup.
“Sore ini indah yah, kamu suka senja?” tanyaku kemudian.
Aku melirik wajahnya, tatapan itu semakin tajam menatapku dengan wajah kebinggungan dengan pertanyaanku.
“Aku menikmati waktu senja.” Hanya itu jawaban singkatmu.
Aku menghela nafas, “andai aku bisa menjadi senja, mungkin aku akan sedikit merasa lebih hidup. Senja itu hadirnya sesaat namun bisa membuat bahagia di sekitarnya,  pasti bahagia banget ya bisa menjadi senja”. Aku diam, menunggu responnya. Dia hanya diam, aku meliriknya. Dia memandangku, seolah menunggu lanjutan dari kalimatku.
“Sedangkan aku seperti rotasi, yang selalu mengelilingi bumi tanpa bisa memilih untuk sembunyi atau sekedar memilih untuk bisa menjadi diri sendiri. Hidupku terus saja berjalan pada sesuatu yang sudah di persiapkan. Berputar terus, selalu monoton. Ingin lepas tapi tidak bisa, aku terikat. Memutuskan ikatan, berarti sama saja aku merusak dunia. Aku harus ada di setiap harinya, bukan untuk diriku tapi untuk orang lain. Rasanya sungguh menjemukkan, namun aku berkewajiban untuk menjalankannya.”
Aku diam sesaat, menetralkan emosi yang tengah bergejolak pada perasaanku. Ingin aku teriak, tapi aku tau aku tidak bisa. Aku melirikmu kembali. Kamu masih saja diam tidak merespon ucapanku.
Beberapa menit selanjutnya, masing-masing kita diam. Sibuk dengan pikiran yang bergejolak. Aku dengan ketidaksyukuran hidupku dan kamu mungkin binggung dengan segala ucapanku. Hingga waktu lima belas menit itu berlalu. Kamu ingin beranjak dari bangku yang kita duduki tersebut, namun gagal. Persendian lututmu ternyata masih lemah untuk di paksakan berjalan. Aku menawarkan diri untuk memapahmu, dan kamu tidak menolaknya.
“maaf ya saya jadi merepotkan kamu” ucapnya dalam perjalanan menuju tempat yang katanya kekasihnya sedang menunggu.
“semua hidup itu membosankan. Jangan kamu mengira hanya hidup kamu yang membosankan. Masih banyak orang yang hidupnya jauh lebih membosankan dari hidupmu. Kamu hidup bukannya tidak bisa memilih. Kamu bisa memilih, dan kamu memilih untuk menikmati kebosananmu itu. Atau lebih tepatnya membiarkan orang lain membantumu untuk memilih hidupmu.”
Aku tertegun, terdiam mendengar ucapanmu. Aku menatapmu, mencoba mencari kebenaran di setiap ucapanmu. Matamu hidup, beda dengan mataku yang meredup.
“ok, cukup di sini saja. Sebentar lagi juga pacar saya datang, tadi katanya sudah sampai di lampu merah pertigaan yang di sana”.
Kita berdiri di ujung jalan setapak. Menikmati semilir angin yang lewat. Menyejukkan.
“kamu jangan seperti daun, yang tidak bisa memilih untuk jatuh dimana. Posisi jatuhnya daun, selalu di tentukan oleh angin yang menerbangkannya. Kamu mungkin bisa saja bernegosiasi dengan angin ingin jatuh dimana. Tapi jangan lupa, selalu ada hujan yang akan menghanyutkanmu. Membawamu pergi dari tempat yang kamu inginkan. Kamu hanya perlu melakukan apa yang tidak pernah kamu lakukan, jangan pernah takut mencicipi akan arus hal baru, maka disanalah kamu akan merasa lebih hidup.”
Aku kembali terdiam memandangmu. Aku mencoba mengartikan setiap kata yang kamu ucapkan. Di ujung jalan terlihat sedan berwarna metalik merah. Sepertinya itu kekasihmu sebab mobil itu perlahan, menghampiri kita yang tengah berdiri. Seorang gadis keluar dari mobil itu, berjalan ke arah kita.
“tolong ambilin barangku dulu di warung seberang sana ya, tadi aku menitipkannya sebelum insiden ini.” Ucapmu pada gadis pembawa mobil tersebut.
Gadis itu bergegas menghampiri warung yang di maksud tersebut.
“putuskanlah segala hal yang kamu mau. Pilihlah menggunakan hatimu. Jangan takut untuk salah, karena dari kesalahan kamu akan belajar bahwa mendapatkan yang terbaik kita harus jatuh terlebih dahulu. Dan pilihan dari hatimulah itu semangatmu untuk bangkit ketika kamu jatuh. Hidupmu itu tidak membosankan, hanya kamu belum tau bagaimana caranya menikmati hidup”
Kamu mengerlingkan matamu, sebelum aku melepas pelukkanku saat memapahmu. Gadis itu memapahmu, masuk dalam kendaraan yang di kendarainya. Pintu itu tertutup, kendaraan itu pun berlalu. Sementara aku masih diam, mencerna setiap bagian-bagian kejadian yang terjadi sebelumnya.`Aku pun tersenyum, mulai mengerti ucapanmu.
terimakasih” ucapku kemudian.

01 Mei 2013

02:19 pm