Tampilkan postingan dengan label #catatanperjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #catatanperjalanan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Februari 2016

CURUG MALELA

Perjalanan menuju curug malela ini saya ikut nebeng bareng salah satu komunitas di Bandung yakni SABUKI (Satu Bumi Kita). Untuk komunitas Sabuki ini saya juga tidak terlalu mengenal dekat, karena info trip ini saya dapatkan dari Kak Sifat, salah satu pembicara mengenai traveling di KBI (Klub Buku Indonesia). Namun saat kroscek dengan panitianya, mereka juga tidak mengenal kak Sifat. Ha Ha Ha saya hanya tertawa dalam hati.

Tempat acara berkumpulnya di Musium Sribaduga, Bandung jam 07.00 pagi hari. Awalnya saya sempat bimbang, karena posisi saya yang berada di Jakarta sementara tempat Meeting Point nya di Bandung. Namun mengingat perjalanan menuju Curug Malela sungguh ekstrim dan aksesnya cukup sulit, maka akhirnya saya memutuskan untuk ikut trip tersebut.

Sabtu sore saya berangkat ke Bandung dengan menggunakan jasa kereta api. Sesampainya di Bandung, saya menumpang menginap di kosan teman saya dan minta tolong paginya untuk di antarkan ke tempat meet up (teman yang tidak tahu diri kan saya, sudah menumpang menyusahkan pula).

Mengenal orang-orang baru itu menyenangkan.

Perjalanan ini bukan hanya menuju tempat yang ingin dituju, namun memberikan warna karena bertemu dengan orang-orang baru dan mulai mengenalnya. Setelah semua peserta berkumpul dan berdoa sejenak, akhirnya perjalanan menuju Curug Malela pun di mulai pukul 08.00. Dengan menyewa truk polisi, rombongan mulai melintasi jalan-jalan Bandung. 

Perjalanan menuju curug malela memakan waktu 3-4 jam. Curug Malela terletak di Desa Cicadas, Kecamatan Rongga-Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat.

Setelah menempuh sekitar 3 jam, maka akan terlihat gapura menuju curug Malela. Dari Gapura menuju pintu masuk curug jalan yang dilalui akan begitu ekstrim. peserta yang berada di dalam truk polisi diajak untuk bergoyang. Jalan yang tidak rata, karena berisi batu-batu besar, tanah lumpur, tanjakkan, belokkan dan turunan. Perjalanan melalui jalur ini seolah sedang menaiki arung jeram, karena tubuh ikut bergoyang kekanan, kekiri, kedepan dan kebelakang kadang sempat loncat pula. Ditengah perjalanan truck sempat berhenti tidak kuat menanjak, dan mundur kembali. Sontak membuat peserta di dalamnya ikut berteriak –ketakutan  truk akan terguling kebelakang–. Ternyata truk tersebut hanya mundur sebentar mengambil ancang-ancang untuk dapat melewati tanjakkannya.

Saya menyebutnya truk dewa, karena bisa dengan canggihnya melewati jalanan yang begitu terjal. 

Sesampainya di tempat parkir terakhir, truk tersebut beristirahat. Dan para peserta pun mulai meluruskan badan yang sempat terombang-ambing. 

Curug malela yang sekarang saya singgahi ternyata sudah cukup dikelola, terbukti jalan menuju ke sana sebagian sudah berupa aspal. Dari loket hingga ke curug tidak memakan begitu banyak waktu. Karena jalannya terus ke bawah, kira-kira waktu yang dibutuhkan hanya 15-20 menit saja. Jalan turun sebentar saja, sudah dapat terlihat dari kejauhan begitu mempesonanya niagara mini ini. Curug dengan tinggi 60 meter dan lebar 70 meter ini sering disebut sebagai Niagara Mini. Debit airnya pun cukup tinggi, untuk yang ingin berenang harap berhati-hati. Sayangnya air terjunnya tidak sejernih air terjun yang biasa dijumpai, menurut saya air terjun ini cenderung lebih kotor. Atau mungkin pengaruh hujan yang membawa lumpur ikut bersama derasnya arus. karena sehari sebelum keberangkatan hujan deras melanda kota Bandung.


Bagi yang suka berburu curug, Curug Malela menurut saya menjadi hal yang harus di datangi.

Sabtu, 25 Oktober 2014

Pulau Sempu dan Bromo

PULAU SEMPU

Ada yang masih bertanya-tanya dimanakah Pulau Sempu. Ada pula yang bertanya-tanya semenarik apa Pulau Sempu itu atau ada pula jua yang bertanya ada apa saja disana. Masih banyak pertanyaan yang akan dilontarkan ketika memilih untuk menjelajahi Pulau Sempu. Berbeda bila pernyataan yang terucap adalah menjelajahi Bromo. Tanpa bertanya pun, sudah pasti terbayang hamparan pasir, indahnya sunrise, asiknya berkuda dan membelah pasir dengan menggunakan jeep.

Pulau Sempu terletak di Desa Tambak Rejo, Kecamatan Sumbermanjing, Kabupaten Malang. Lokasinya tidak jauh dari pantai Sendang Biru. Untuk menuju pulau Sempu ini haruslah menggunakan kapal nelayan., karena lokasinya terbelah oleh lautan lepas. Waktu penyebrangan ke Pulau Sempu dapat ditempuh sekitar 5-10 menit dari bibir pantai Sendang Biru. Untuk menuju Pantai Sendang Biru ini, waktu perjalanan dapat ditempuh kurang lebih dua jam dari kota malang. Melewati jalan berliku mengitari pegunungan yang cukup ekstrim (menurut saya).

Di Pulau Sempu ini terdapat sebuah danau segara anakan, dimana untuk menuju ke danau ini haruslah menempuh perjalanan mengitari hutan kurang lebih sejam. Dimana selama perjalanan akan disuguhi dengan pemandangan disekeliling hanyalah pepohonan, baik itu pepohonan yang sudah kokoh maupun pepohonan yang telah tumbang. Disarankan untuk menuju danau segara anakan sebaiknya pada saat musim kemarau. Karena apabila musim penghujan tracking yang dilalui akan penuh dengan lumpur. Dalamnya lumpur bisa hingga sebetis.



Perjalanan lelah setelah berjalan sejaman, akan terbayar dengan pemandangan danau segara anakan yang masih alami. Pasirnya yang putih, airnya yang bening dan suasana yang seolah-olah danau ini seperti sebuah pulau milik sendiri. Adanya pasir putih pada danau segara anakkan karena posisi danau tersebuat bersebelahan dengan lautan lepas atau samudra hindia yang membatasinya hanyalah karang yang menjulang. Bagi yang ingin menginap dan menikmati suasana malam, dapat mendirikan tenda si tepi bibir pantai danau.






BROMO

"Rasanya tidak akan lengkap bila mengunjungi kota Malang, tapi tidak menapakkan kaki di Bromo. Seperti ada yang berkurang."

Kurang lebih seperti itulah pepatahnya. Belum ke Malang kalau belum ke Bromo. Bromo merupakan salah satu icon wisata kota Malang yang sudah sangat tersohor ke seluruh negeri. Apalagi setelah salah satu film Indonesia melakukan syuting disana dengan judul film yang sama dengan lokasi tempat itu berada.

Perjalanan menuju Bromo dapat ditempuh selama kurang lebih dua jam. Dengan medan jalan yang tidak kalah berkeloknya. Berbeda dengan Pulau Sempu yang panas, meskipun perjalanan ke Bromo sama-sama mendaki gunung. Namun setibanya di area penginapan, akan dihadapkan pada suhu yang cukup dingin. Jaket tebal dan syal pun masih kurang melindungi tubuh dari udara dingin yang datang.

Tidak hanya tempatnya yang eksotis, pemandangan sunrise di puncak gunungnya pun menjadi satu-satunya kegiatan yang harus dinikmati sendiri. Tidak perlu menggunakan jeep seperti yang banyak diberitakan. Menggunakan kendaraan pribadi seperti motor pun, tempat pemandangan sunrise pun dapat di tempuh.

Hawa dingin yang menusuk, tidak menyurutkan semangat untuk tetap menanti sunrise. Ratusan mata, menatap ke arah timur. Arah dimana maha karya indah Tuhan perlahan bangkit menyapa dunia. Entah telah berapa kali tangan-tangan anak manusia menyentuh tombol rekam pada masing-masing kameranya. Mengabadikan salah satu karya indah semesta.

Jeep berbaris, berkumpul diberbagai area sepanjang jalanan pasir. Menunggu sang penumpang untuk kembali. Setelah dengan tertatih berjalan menuju puncak gunung untuk dapat melihat kawah Bromo dari dekat. Bagi yang tidak ingin berjalan di lautan pasir dapat juga menyewa kuda. Seratus ribu untuk pergi dan kembali. Sayangnya jika menggunakan sewa jasa kuda, sang penyewa tidak akan mau menunggu apabila kita hendak naik ke atas kawahnya. Persiapan untuk ke kawah Bromo harusnya menggunakan masker yang tebal, karena bau belerangnya begitu tajam hingga dapat menyesakkan.


Kamis, 09 Januari 2014

Kereta Istimewa dan Banyak Cerita

Seharusnya hari ini menjadi hari yang biasa saja. Atau lebih tepatnya sedikit istimewa dengan guyuran hujan sejak pagi, sehingga menyebabkan beberapa di daerah ibukota Jakarta menjadi banjir. Termasuk jalan di depan tempat aku bekerja. 

Aku berangkat dan pulang kerja seperti biasa, menaiki kereta. Aku pun mendengar cerita dari rekan kerja, bahwa bila di depan banjir maka jalan akses menuju stasiun yang biasa ku lewati pun ikut tergenang. Sungguh naas, pikirku. Maka aku berinisiatif, menumpang sama rekan kerjaku untuk sampai ke stasiun Kota. Stasiun dimana temanku bilang, aku tidak akan was-was bila keretaku akan terhambat perjalanannya.

Kereta masih berjalan seperti biasanya, namun mungkin Tuhan berkata lain. Ketika empat stasiun lagi aku akan sampai pada stasiun tujuanku pulang. Kereta yang ku naiki berhenti cukup lama. Mendengar dari suara informasi, kereta di stasiun berikutnya mengalami gangguan. Awalnya ku kira hanya sementara, dan satu jam pun berlalu. Aku menikmati senjaku dalam kereta. Memandangi rona jingga itu hilang di balik benda-benda mati menjulang. Bagaimana pula, aku dapat beranjak pergi bila pintu kereta pun tidak terbuka. Lampu dan ac dalam kereta pun ikut padam. Menambah sedikit suasana mencekam, dan untungnya ini bukanlah malam jum'at.

Akhirnya pintu kereta masing-masing gerbong pun terbuka, setelah dua jam berlalu. Lampu pun menyala tapi tidak dengan AC. Aku keluar mencari sedikit udara segar. Seketika itu pun aku menjadi tau, penyebab masalah mengapa kereta ini berhenti. Selain karena kereta sebelumnya mengalami gangguan. Ternyata kereta yang aku naiki pun mengalami gangguan. Aku ingin keluar dari stasiun dan menyebrang, namun tidak bisa. Jalanan tertutup, di belakang kereta yang ku naiki ternyata masih ada tiga kereta lagi yang rencananya akan membantu mendorong kereta yang ku naiki ini. Satu kereta saja ada delapan gerbong. Berarti empat kereta ada 32 gerbong. Waw sangat panjang, aku membayangkan kereta satu saja sudang panjang apalagi empat. Dan baru kali ini aku mengertahui, ternyata kereta bisa di dorong dan di tarik. Yupz, kereta yang mogok satu stasiun di depan stasiunku. Akhirnya rangkaiannya di tarik, agar tidak menghambat perjalanan kereta yang lain.

Menurutku sih, dua jam kereta tidak jalan sudah menghambat begitu banyak rangkaian kereta. Karena jalur yang di lewati merupakan jalur satu-satunya kereta melintas ke arah Bogor. Rasanya kesal sih, menanti kereta begitu lama. Tak urung kereta pun bisa PHP (Pemberi Harapan Palsu). Ketika itu, sang pembawa informasi mengabarkan penumpang untuk segera naik. Namun ketika naik, kereta tidak jua di jalankan. Tidak sedikit penumpang yang bersorak memaki. Salah satunya wanita yang sudah cukup umur di sebelahku.

"woiii keretanya di tarik aja sih, di pindahin jalurnya. Pada goblok apa yah, nggak tau kalo banyak orang yang lagi buru-buru". Seketika umpatannya terlontar, banyak pasang mata yang melihatnya. Hanya sekilas dan di lupakan begitu saja. Mungkin sebagian penumpang berfikir, buat apa melademi atau mengomporkan ucapannya hanya akan membuat suasana semakin menegang.

Ada beberapa wanita pun yang mengomentari sambil berbisik, "di tarik di tarik, di kira tambang kali yah." atau "baru juga segini saya pernah empat jam nahan buang air kecil."
Oia sekedar info, saat itu aku sedang berada di gerbong khusus perempuan. Jadi wajar bila mereka lebih senang mengungkapkan kekesalan dengan omongan. 

Kereta pun berhasil di dorong, menunggu dua jam lebih pun akhirnya tidak sia-sia. Pada stasiun berikutnya, kereta pun berhenti. Ada yang menarik di sini, ada seorang gadis yang tiba-tiba berkata. "pak saya boleh naik ya pak ya. pleaseeeeee" dengan muka melasnya yang tengah letih. 

"naik mah pasti boleh neng" ucap petugas keretanya yang ketika itu berada di dekat pintu. Gadis itu pun masuk, dan memulai edisi curhatannya.

"astaga, tadi aku naik kereta sebelumnya tapi gak di bolehin sama penumpang yang di dalamnya. Katanya penuh. Aku udah nunggu kereta setengah jam, capeknya." ucap gadis itu sambil mengibaskan keringat yang sesunguhnya tidak ada di dahinya.

"baru setengah jam neng, kita udah nunggu dua jam loh" jawab ibu-ibu yang posisinya tidak kalah dekat dengan gadis itu.

"Ya ampun ternyata aku lebih beruntung, terima kasih ya Tuhan, ini berkah." ucap gadis itu spontan. Tak elak seketika itu pun beberapa wanita tertawa. Ternyata ada angin segar, berupa stand up komedi dari si gadis ini. Sikap polos dan lugu gadis ini, menjadi hiburan kala penat merajai saat kereta mogok.




08 Januari 2014


Rabu, 30 Oktober 2013

Tanpa Restu, Perjalanan Menjadi Berliku

Berawal dari pembicaraan iseng antara aku dan sahabatku, mengenai perjalanan menjelajahi pantai. Pantai yang belum di ketahui oleh orang banyak, pantai yang masih asri. Seperti Pantai Santolo di Garut yang pernah kita kunjungi sebelumnya. Setelah mencari info di sana dan di sini. Akhirnya tujuan pantai berikutnya jatuh pada Pantai Ujung Genteng di Sukabumi Selatan. Pantai yang belum banyak di ketahui orang, begitu kata artikel yang kita baca. Mulailah mensearch nya di mbah Google serta melihat-lihat foto pantai tersebut, kita pun memutuskan mengunjunginya.

Kita saat ini tinggal di Bandung. Temanku yang biasa aku panggil Kunyuk, dia memang orang asli Bandung. Dia bekerja sebagai Design Grafis. Sedangkan aku bekerja di Rumah Makan. Weekend dan tanggal merah mewajibkan aku untuk bekerja, liburku hanya ada pada salah satu hari di weekday. Sedangkan Kunyuk, weekend adalah saatnya untuk berlibur. Kita pun melihat dan membaca banyak artikel untuk menuju Ujung Genteng, waktu tempuh di perkirakan 7-8 jam. Libur pekerjaan yang tidak pernah bareng dan jarak tempuh yang jauh, membuat kita mulai melupakan perjalanan mengunjungi pantai itu.

Sepertinya Tuhan berkehendak lain. Kala itu di tahun 2011, tepatnya seminggu setelah lebaran aku mendapatkan libur empat hari. Kebanyakan teman kerjaku menghabiskan waktu liburan dengan pergi ke pantai Pangandaran. Sementara aku berfikir, untuk mengajak Kunyuk mengunjungi Ujung Genteng. Pantai yang dulu sempat kita rencanakan untuk mengunjunginya, namun mulai terlupakan. Aku menghubungi Kunyuk, lewat Yahoo Messenger. Menceritakan ideku. Awalnya Kunyuk menolak, dengan alasan pada tanggal tersebut dia sudah mulai masuk kerja. Tidak masuk kerja, menyebabkan gaji mengalami pemotongan. Potongan gajinya pun cukup besar, Rp. 100.000/hari.

"Udeh ntar potongan gajinya, gw yang bayar." ujarku menjawab kebingungannya.

Semenit, dua menit pesanku belum terbalaskan. Aku mulai memakinya dalam hati. Pada menit kelima, pesanku terbalas dengan emote tertawa darinya.

"Oke! setuju. Tapi makan, bensin dan tiket masuk di tanggung yah ?" tanyanya penuh kelicikan.

"Siaaap." jawabku pasrah.

*******

Hari itu tiba. Libur yang aku dapatkan yakni senin sampai kamis. Minggu malam, sekitar jam 10 malam aku pulang kerja. Kunyuk datang ke kosanku dan menginap. Hal itu di lakukan agar lebih memudahkan ketika berangkat esok harinya.

"Besok mau berangkat jam berapa ?" tanyanya sambil berbaring di tempat tidurku.

"Kalau perjalanannya 7-8 jam, terus nggak nginep," aku mulai menghitung dengan jari "kayaknya berangkat jam 3 pagi yah, biar sampai sana nggak terlalu siang terus balik ke Bandungnya nggak kemaleman. Gimana ?"

"Oke, semoga bisa bangun ya."

Seusai membahas jam keberangkatan. Kita masih membicarakan hal lain. Hingga sekitar jam 12 malam kita baru terlelap. Tidak lupa sebelum tidur, kita memasang alarm terlebih dahulu, agar tidak telat bangun.

how insensitive
I must have seemed
When he told me that he love me
how unmoved and cold

Lagu How Insensitive nya Olivia Wong mengalun. Aku terbangun, mematikan alarm pada ponselku. Aku melihat jam. 02:30 am. Aku membangunkan Kunyuk. Seperti biasa, manusia satu ini susah sekali untuk di bangunkan. Aku lebih memilih mandi, bila pilihan satunya lagi adalah membangunkan Kunyuk satu ini. Selesai mandi, aku membangunkannya kembali. Dengan malasnya, dia bangun dan kemudian masuk kamar mandi. Entah beneran mandi, atau hanya mencipratkan air ke wajahnya.

Kita membaca basmalah terlebih dahulu, ritual yang selalu kita lakukan sesaat sebelum keluar dari rumah. Sedikit telat 30 menit dari jam yang di sepakati. Kita pun akhirnya memulai perjalanan. Hawa dingin yang menerpa selama menyusuri jalan lenggang di Bandung. Membuat kita berhenti, dan mulai memakai dua jaket untuk meminimalkan hawa dingin menyentuh kulit. Melewati Jalan Bypass Soekarno-Hatta, kita mulai meninggalkan Bandung. Melewati Cimahi, Padalarang, Cianjur kemudian Sukabumi.

Sejujurnya, aku hanya mengetahui jalan dari Bandung ke Sukabumi. Sedangkan untuk menuju Sukabumi Selatan, tempat pantai Ujung Genteng berada. Kita hanya mengandalkan artikel-artikel yang kita baca. Artikel yang memberitahukan arah-arah mana yang akan kita tempuh setelah melewati Sukabumi Kota.

Pukul 05:30 am, kita sudah sampai di Sukabumi Kota. Kita berhenti di minimarket. Membeli beberapa makanan dan minuman serta menumpang buang air kecil. Kita juga sempat bertanya arah menuju Ujung Genteng.

“Emang dari mana neng ?” Pertanyaan sama yang ditujukan kepada kita setiap bertanya arah tujuan.

“Bandung kang.” Jawab kita berbarengan.

Membayar tagihan belanjaan, dan kita pun melanjutkan perjalanan kembali. Beberapa ratus meter dari minimarket tadi, kita melihat ada tukang bubur ayam. Akhirnya kita berhenti, untuk sarapan terlebih dahulu. Setelah membayar, kita bertanya kembali pada penjual bubur tersebut. Namun sayang, penjual bubur itu ternyata seorang pendatang yang baru dua bulan di Sukabumi.

Perut kenyang, perjalanan pun kita lanjutkan. Setelah bertanya beberapa kali, dan nyasar beberapa kali juga. Akhirnya kita menemukan papan petunjuk jalannya. Saat memasuki sebuah jalan yang sangat jelek, aku hanya mampu terkaget-kaget. Sepanjang jalan, dipenuhi tanah merah yang tercampur dengan tumpukkan batu kerikil dan batu kali yang besar-besar.

"Nyuk, ini beneran jalannya ? Kok jelek begini sih ?"tanyaku yang masih tetap konsentrasi mengendarai motornya Kunyuk.

"Kata orang yang tadi kita tanyain sih benar, papan nama tadi juga bilangnya lewat sini. Cuma nggak kebayang saja sih. Kalau kita pulang kemaleman terus lewat sini." Kali ini Kunyuk yang bergidik ngeri.

Tidak seperti perjalanan ke Garut yang melewati pegunungan. Perjalanan menuju Ujung Genteng lebih di dominasi hutan. Akhirnya jalan yang kita tempuh pun tidak lagi dipenuhi batu kerikil. Namun tetap tidak bisa dikatakan baik, karena sepanjang jalan yang kita lalui masih terdapat banyak lubang.

"Sebelum ke Ujung Genteng, kita ke Curug Cikaso dulu yah. Katanya sih sebelum pantai Ujung Genteng lokasinya."

Aku hanya mengangguk, mengiyakan permintaan Kunyuk. Saat itu pukul 09:30 am, ketika aku membelokkan motor yang ku kendarai ke arah kiri. Papan nama menunjukkan Curug Cikaso kurang lebih 7 km dari belokkan tersebut. Sesampainya di tempat parkiran di Curug tersebut, kita bertanya-tanya kepada pemilik warung sekaligus sebagai penjaga kendaraan di parkiran tersebut. Mereka berkata bahwa Curug Cikaso sangat bangus. Akses ke sana pun, bila kita menghendaki bisa menggunakan perahu. Kita mengiyakan, sambil tersenyum dan pamit menuju Curug yang di maksud.

"Ke Curug nya jangan naik perahu ya, mahal. Kan kita lagi kere." kata Kunyuk, saat kita telah melewati parkitan dan berjalan kaki menuju pos pembelian tiket.

"Neng, mau ke Curug yah. Naik perahu aja neng, pemandangannya bagus." promosi sang penjaga loket.

"Tapi jalan kaki bisa kan kang ?" tanya Kunyuk dengan logat khas Sunda.

"Bisa sih neng, tapi jauh. Mendingan neng naik perahu biar nggak capek. Naik perahu cuma Rp. 100.000 kok neng. Nanti di tungguin pas mau pulangnya."

"Kita jalan kaki saja kang, ini arahnya kemana ya ?" tanyaku berusaha menyudahi pembicaraan yang bertele-tele.

"Lurus saja neng, nanti ikuti jalan setapak ke arah barat." petugas loket itu mengarahkan dengan tangannya.

Kita menyusuri jalan setapak. Dimana kiri dan kanannya di kelilingi dengan kebun. Sesampainya di ujung jalan, terhampar lapangan luas. Kita berdua kebingungan, jalan mana yang harus di ambil. Melihat orang-orang menuju arah perbukitan. Kita pun memutuskan untuk mengikutinya. Jalan yang kita tempuh ternyata tidak sejauh yang di infokan petugas loket tadi, kita berjalan hanya sekitar 10-15 menitan.  Dan benar saja, di balik bukit itu. Kita melihat Curug nya.

Di bawah Curug itu. Kita saling berpandangan, kemudian tertawa dengan begitu kerasnya. Entah menertawakan kebodohan atau kesialan. Curug Cikaso yang begitu megah dan indahnya saat kita melihat fotonya di Google. Kini hanya tinggal khayalan. Curug itu kering, tanpa ada air yang jatuh dari ketinggian Curugnya. Air di bawah Curugnya memang hijau dan terlihat sama bagusnya seperti foto-foto yang kita lihat. Hijaunya air di sebabkan pada dasar air itu banyak tumbuh lumut.

Kita duduk pada bebatuan di bawah Curug itu. Kita beristirahat sejenak, minum dan memakan roti yang kita beli di minimarket tadi. Kita lupa memperkirakan, bahwa musim juga berpengaruh pada kouta air yang menghiasi Curug. Kita tidak menghabiskan waktu lama di Curug Cikaso, mengingat perjalanan utama kita belum di kunjungi. Setelah kembali ke tempat penitipan motor dan berbasa-basi sejenak, kita melanjutkan perjalanan ke Ujung Genteng.

Udara mulai lebih panas dari biasanya. Sepanjang jalan yang kita lalui, pepohonan terlihat begitu gersang. Petanda bahwa sebentar lagi kita akan bertemu dengan pantai. Benar saja, setelah sejaman kita melewati hamparan tanaman gersang kita sampai juga di Pantai Ujung Genteng. Kita menyusuri hutan kecil, untuk menuju ujung pantai tersebut. Sesampainya di sana, setelah memakirkan motor. Kita saling pandang dan tertawa kembali. Pantai Ujung Genteng sedang mengalami surut. Hanya terdapat sehamparan karang, sepanjang bibir pantai. Niat kita untuk berenang, seketika langsung surut.

Sepanjang pantai, kita hanya berfoto. Mengabadikan sekaligus membuktikan bahwa kita pernah menjajakkan kaki di pantai tersebut. Dari pantai di ujung kita pindah ke pantai sebelahnya. Ritual yang selalu kita lakukan ketika ke pantai adalah minum air kelapa muda. Buatku kelapa muda tanpa es dan gula adalah kelapa yang paling enak sedunia.

Setelah perut kembung, kita melanjutkan main-main di bibir pantai. Merendam kaki, berfoto kembali dan sedikit ikut berbincang dengan pengunjung wisatawan lokal yang lainnya.

"Sayang ya neng, pantainya lagi surut. Neng dari mana ?" tanya seorang bapak-bapak, salah satu wisatawan lokal.

"Dari bandung pak," jawab temanku Kunyuk.

"Wahh jauh yah, bapak juga dulu pernah kerja di Bandung. Bandungnya dimana ? Oia tadi kesini naik apa ?" Mulailah pertanyaan basa basi menyerang.

"Bandungnya di Moh. Toha pak. Kita kesini naik motor pak." Masih Kunyuk yang menjawab pertanyaan bapak-bapak itu. Aku hanya sesekali senyum dan ikut nimbrung.

"Naik motor, berdua ? cewek-cewek ?" bapak itu terlihat syok mendengar pengakuan temanku itu.

"Nggak mungkin pulang pergi kan? pasti nginep kan?" tanya bapak itu bertubi-tubi.

"Iya pak cuma berdua, kita nggak nginep nanti jam 3 an kita mau perjalanan balik ke Bandung."

Bapak-bapak itu terdiam cukup lama. Mungkin peryataan temenku terdengar gila. Orang gila mana, yang melakukan perjalanan ke tempat wisata dengan waktu tempuh 7-8 jam dan itu baru perginya saja. Total perjalanan pulang pergi berarti sekitar 14-16 jam dan itu pun tanpa menginap serta wanita pula yang melakukan perjalanan. Mungkin dia sebagai lelaki pun akan berfikir ulang untuk melakukan perjalanan seperti itu.

"Hati-hati ya neng kalau pulang." Akhirnya bapak-bapak itu hanya mengucapkan kalimat itu dan memulai bincang-bincang pembahasan yang lainnya.

Temanku, Kunyuk. Sepertinya mulai jengah, dengan alasan waktu kita terbatas. Kita pun pamit dari obrolan, karena harus melanjutkan perjalanan kembali. Inginnya kita melanjutkan perjalanan mengunjungi pantai yang lain. Namun waktu yang kita miliki terbatas, akhirnya kita memutuskan untuk kembali ke Bandung. Selang beberapa menit saat perjalanan pulang, kita menepi. Mengisi perut terlebih dahulu.

Saat ingin melanjutkan perjalanan, ternyata ban motornya Kunyuk kempes. Kita pun terpaksa berjalan lebih lamban, mencari bengkel untuk menambal bannya yang kempes. Waktu semakin berlalu, dan sinar mentari pun semakin meredup. Setelah menambal ban, kita pun melanjutkan kembali perjalanan. Ketika berhenti di pom bensin, aku melihat wajah Kunyuk seperti berbeda dari biasanya.

" Kenapa Nyuk ?"

"Nggak apa-apa, barusan Nyokap telepon nanyain lagi dimana kok belum pulang." Jawabnya sambil mengutak atik ponselnya.

"Terus jawab apa? Jangan bilang, kalau belum ijin mau ke sini lagi ?"

"Bilangnya sih nganterin lw, cuma nggak bilang kalo ke Sukabumi. Bilangnya ke Lembang dan naik mobil."

"Mau di gantiin nggak ngendarain motornya ?"tawarku sambil memandangi wajah yang terlihat tidak tenang.

"Nggak usah, nanti kalo capek juga bakal bilang minta di ganti. Lagian kan pas berangkat udah lw yang bawa."

Tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama di pom bensin itu. Kita pun segera beranjak melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan yang kita lewati, hanya di kelilingi oleh hutan. Penerangan hanya berasal dari lampu sepeda motor yang kita kendarai dan lampu rumah penduduk bila posisi rumah tersebut berada di pinggir jalan. Kondisi penerangan yang minim, membuat kita hanya bisa menelusuri jalan. Sambil berdoa dalam hati, semoga jalan yang kita pilih tidak salah. Perjalanan yang sangat sepi dan senyap. Membuat kita terus mengeluarkan suara untuk mengusirnya. Salah satunya dengan bernyanyi, lagu apapun kita nyanyikan bahkan lagu dangdut sekalipun.

Perjalanan pulang terasa begitu lama, lebih lama dari perjalanan saat berangkat. Jalan yang kita lewati pun jalan yang terbilang cukup bagus. Kita tidak juga menemukan jalan jelek penuh batu seperti saat berangkat. Kita tetap berifkir positif thinking, berdoa semoga jalan yang kita lewati membawa kita menuju Sukabumi Kota. Tuhan sepertinya mendengar doa kita, akhirnya kita sampai di Sukabumi Kota. Meskipun jarak tempuh lebih lama, yakni selisih hingga sejaman bila di bandingkan dengan saat berangkat.

Aku menawarkan ke Kunyuk untuk menginap di rumah tanteku yang berada di Salabintana, Sukabumi. Mengingat malam yang semakin larut, dan mungkin saja lelah melandanya. Kunyuk menolak, dan kita pun melanjutkan perjalanan menuju Bandung. Melewati Cianjur, kita berhenti kembali di minimarket. Membeli beberapa minuman penyegar untuk mengahalau rasa kantuk.

"Gantian ya, bawa motornya." tiba-tiba Kunyuk bersuara.

"Oke."

Aku mengendarai kembali, membawanya pada kecepatan tidak terlalu tinggi. Saat akan memasuki daerah Cipatat, tiba-tiba ban motor depan kempes. Motor pun mulai ongleng, kehilangan keseimbangan.

"Nyuk Nyuk yah yah jatuh Nyuk jatuh." Aku hanya bisa berucap itu hingga akhirnya kita jatuh. Tubuh dan motor yang kita kendarai menghantam aspal. Kejadian yang begitu cepat, selang beberapa detik. Aku langsung terbangun, melihat Kunyuk yang terjatuh tidak jauh dariku.

"Nyuk nggak apa-apa ?' tanyaku panik.

"Nggak apa-apa kok." Jawabnya membantuku mendirikan motor. Orang-orang yang ada di sekitar pun ikut datang membantu kita menepi. Aku melihat sekitar. Ada truk yang berhenti di depan kita terjatuh, ada mobil APV di sebelah kiri keluar jalur dari jalan beraspal. Sepertinya mobil itu ketika melihat kita terjatuh, mobil itu langsung banting stir ke kiri.

Ban motor depan pecah dan hari pun semakin larut malam. Tidak ada bengkel di sekitar warung tersebut. Warung dimana menjadi tempat kita menepi. Penjaga warung dan temannya menawarkan bantuan untuk mengantarkan ke bengkel terdekat. Saat itu tidak ada pilihan lain, akhirnya kita pun mengiyakan dengan syarat Kunyuk juga ikut ke bengkel tersebut. Kunyuk pun pergi bersama teman penjaga warung tersebut. Aku masih duduk, menenangkan diri dari gemetaran akibat terjatuh tadi. Aku terus berdoa, semoga semua baik-baik saja. Dan kita tidak mengalami hal yang lebih apes dari hari ini. Aku sesering mungkin mengirimi Kunyuk sms, menanyakan bahwa dia pun baik-baik saja. Dan memastikan kita pun tidak sedang di tipu.

Sejam kemudian Kunyuk kembali. Berbasa basi sejenak, dan menyelipkan uang terimakasih. Kita pun melanjutkan perjalanan. Kunyuk yang mengendarai kendaraan itu. Aku tentu saja masih syock. Kunyuk pun tidak mengijinkan aku mengendarainya. Motor yang kita kendarai pun tidak bisa berjalan cepat. Kecepatan pun hanya mampu 40km/jam. Sesampainya di Bandung, waktu sudah menunjukkan tengah malam. Makan malam pun sudah tidak menjadi perhatian kita. Satu-satunya tempat yang ingin kita kunjungi adalah kamar.

Kita akhirnya sampai di kos ku. Setelah memakirkan kendaraan pada halaman kosanku. Kita dengan lelahnya menuju kamar, bertemu dengan kasur. Merebahkan tubuh yang sudah lelah dan letih.

“Kayaknya kalau kemana-mana harus ijin dulu dech. Nggak boleh bohong sama orang tua. Akibatnya ya ini nih, apes sepanjang perjalanan.” Ucap Kunyuk saat mata kita sama-sama tengah merejam.

Kita sama-sama tertawa dan kemudian terlelap.

27 Okrtober 2013


NB :
tulisan ini aku ikutkan dalam lomba di kompasiana, dengan #catatanperjalanan

Jumat, 15 Maret 2013

Sawarna, Kita dan Cerita

Hari yang ditunggu-tunggu untuk melepaskan jenuh. Bagi mereka kawan-kawanku. Seharusnya pun aku ikut melepaskan jenuh. Tapi sekali lagi aku ingin meminta maaf kepada mereka, teman-temanku. Liburan kita tidak sepenuhnya bebas dari penat. Karena terbukti, liburanku berisi pekerjaan. Pekerjaan yang membuatku tidak di ijinkan untuk melepasnya.
Berawal dari niat teman yang ada di Jakarta, aku memanggilnya si Unyun. Selama mengenalnya baru aku tau bahwa nama aslinya Desi. Dia mengajak liburan ke Sawarna, pantai yang banyak di bilang orang begitu mempesona. Aku mencari pantai tersebut, memang benar cukup menawan. Letaknya pun bisa di tempuh dari Sukabumi. Tempat saat ini aku menetap. Mengingat si kunyuk juga mau ke Sukabumi, jadi sekalian aku ajak dia. Sudah di pastikan kunyuk pasti akan bersorak gembira. Karena laut adalah keindahan alam yang paling di sukainya.
Pekerjaan kita semua berbeda, begitu pun termasuk hari libur. Hal yang paling susah di lakukan adalah menyatukan hari libur. Sehingga ada yang harus rela berbohong demi mendapatkan liburan yang berharga itu. Tanggal 11 Maret 2013, adalah hari dimana yang di sepakati oleh kita untuk menempuh perjalanan menuju Sawarna. Harpitnas, hari kejepit nasional. Itulah yang di bilang oleh mereka, karena hari masuk yang terletak di antara hari libur.
Kita menyepakati untuk bertemu di Sukabumi, Unyun dari Jakarta dan Kunyuk dari Bandung. Mereka datang hari minggu sore. Menurut jadwal, kita akan memulai perjalanan ke sana adalah sebelum subuh tiba. Namun apa daya, akhirnya kita berangkat sesaat sebelum matahari terbit. Perjalanan yang cukup menyenangkan, karena di suguhi oleh berbagai macam pemandangan yang sungguh mempesona. Tanjakan yang cukup curam membuat Unyun aku minta untuk turun dari motor yang ku kendarai. Warna dalam perjalanan begitu banyak, ada warna ketika motor ban belakangku kempes. Mengharuskan Unyun jalan kaki, dan aku pergi meninggalkannya untuk mencari bengkel. Kunyuk yang dateng bersama teh Iya, berhenti di ujung menunggu kedatangan kita. Dan aku memintanya menjemput Unyun yang jauh berada di belakang. 
Perjalanan dari Sukabumi menuju Sawarna adalah cukup singkat. Bila jalan yang di tempuh tidak mendaki dan tidak berhenti untuk foto-foto. Terpaksa adalah kata yang tepat, ketika kita harus berhenti untuk menikmati setiap pemandangan indah itu. Dan mengabadikannya dalam gambar. Foto ini adalah foto yang di ambil ketika perjalanan menuju Sawarna. Foto yang menurut aku seperti lukisan. Lukisan yang mampu bergerak, lukisan nyata. Sungguh tiada yang meyesal bila, melepas kesibukan digantikan dengan melihat pemandangan ini. 
Mencari pantai yang kita tujukan, tidaklah sulit. Bertanya beberapa kali kepada penduduk sekitar, dengan bersahajanya mereka pasti akan menunjukkan lokasinya. Tidak pernah terbayang, bila untuk mencapai ke pantai tersebut harus melewati jembatan gantung. Terimakasih Tuhan, Engkau telah memberikan ujian untuk nyaliku. Tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan, selain melewatinya. Seluruh tubuhku merasa lemas seketika, tapi aku menutupinya. Dan sampailah kita pada pantai indah itu, pantai Tanjung Layar. Sebuah pantai yang terdapat dua buah batu karang besar yang menghiasinya. 
Matahari dengan bangganya memeberikan sinar. Sinar yang mampu menyilaukan pandangan mata. Tepat jam 12 siang, kita sampai di pantai tersebut. Aroma laut jelas tercium, suara ombak yang berpacu dengan angin. Terasa jelas dalam alat indra kita. Laut adalah kecintaan mereka, teman-temanku. Aku hanya suka mendengar suara ombaknya, meneduhkan perasaan. Semilir angin, yang mungkin menerbangkan kepenatanku. Dan pastinya senja, yang selalu membuatku terpesona. Kita menyepakati untuk bermalam di pantai itu, di antara bale-bale di bibir pantai. Keuangan yang menipislah yang mengharuskan kita melepas lelah di sana.
Senja itu datang, menghampiri kita. Memberikan pesona yang mampu membuat kita tertegun bangga. Keindahan yang diciptakan Tuhan ternyata begitu banyak. Tidak cukup pula, rambut-rambut di tubuh kita untuk menyamakannya. Andai saja, ada kamu jadi ikut menikmati senja ini. Ingin ku ungkapkan, bahwa senja terindah dala hidupku adalah kamu. Pemberi keindahan dalam hidupku, indah dalam warna cerita. Sayang pekerjaan tengah menyibukkanmu.
Teman-temanku begitu menikmati liburan ini, sementara aku pikiranku tak lepas dari pekerjaan itu. Pekerjaan yang membuatku harus selalu terfokus. Sempat pula terjadi insiden kehilangan, untung saja hal negatif tidak menyelip di antara perjalanan ini. Malam semakin larut, acara membuat api unggun pun di mulai. Berniat ingin membakar cumi yang telah aku dan Kunyuk beli. Ternyata gagal, cumi itu terlalu kecil. Untuk terjepit di antara penjepit pemanggang. Kita menitip untuk membeli ikan kepada anak yang gubuknya kita sewa. Di depan api unggun, sesaat aku menikmati perbincangan antara aku dan Kunyuk. Gumpalan asap rokok menari indah di antara perbincangan kita. Kepenatan hidup, rencana hidup, arah hidup yang berjalan. Kita berbicara dari hati ke hati. Pembicaraan yang begitu lama tertahan akhirnya terucap. Diselinggi becanda, perbincangan itu pun harus berakhir. Sebab acara bakar ikan pun harus di lanjutkan. Adalah ikan layur, ikan yang tengah kita bakar. Ikan yang memiliki panjang yang cukup, terselip lebut dagingnya bila bersentuhan dengan lidah kita.
Malam pun semakin larut, yang memaksa kita untuk berpamit menjemput mimpi. Hanya dengan beralaskan bale-bale. Kita merapat berbaing, ada teh Iya yang sudah terlelap dengan lelahnya. Ada Unyun yag sibuk dengan lagu di pendengarannya. Dan ada aku dan Kunyuk, yang masih berbincang diantara cahaya lampu yang menerangi. Lampu yang di supplay oleh jetset itu pun harus padam ketika aku terbangun di antara tidurku. Masih terdengar suara ombak dan jangkrik, menemani pejaman mataku. Pikiranku masih berkelana, masih bekejar-kejaran dengan mimpi. Hingga aku membuka mataku untuk melihat mentari pagi. 
Ada seburat awan bercahaya di balik tebing itu. Menandakan bahwa aku hanya bisa melihat mentari bangun lewat samar-samar bayangannya. Adalah kalian, yang menculikku diantara kesibukan kerjaku dan memberikan satu hari berharga. Terimakasih untuk satu hari yang penuh cerita ini.

Rabu, 16 Februari 2011

kembali menjelajah, tak mengenal lelah dan kenangan terakhir

Pagi-pagi kita meninggalkan desanya urie, dengan angkutan antar kota. Serasa di koclak-koclak ini perut, pusing dan mual. Kondisi yang gw benci ketika berada di dalam kendaraan. Sesampainya di Terminal Jombor, kita naik trans jogja menuju keraton Ngayogyakarta. Tempat yang ingin dikunjungi namun belum terlaksana. Harga masuk ke dalam keraton pun terbilang murah, hanya Rp. 2.000,- per orang plus biaya tambahan Rp. 1.000,- apabila membawa kamera. Memasuki kawasan keraton kita dilarang menggunakan segala macam bentuk topi, karena dianggap tidak menghormati keraton itu sendiri. Suasana yang masih asri, masih terawat dan keraton sendiri pun tak hanya sebagai salah satu objek wisata. Gw menemukan ada beberapa abdi yang masih sibuk berkutat dengan mesin tik lamanya, disebuah ruangan yang bagi penggunjung dilarang untuk memasukinya.

Setelah puas melihat-lihat dan berfoto-foto ria. Kita beranjak menuju alun-alun utara, mencari jalan menuju Taman Sari. Salah satu tempat setelah keraton yang juga belum sempat kita kunjungi. Setelah berjalan 15 menitan, sampailah pada tempat yang dituju. Taman Sari merupakan salah satu tempat yang dulunya adalah bekas pemandian para putri raja. Dekat dengan Taman Sari, ada beberapa reruntuhan bangunan yang katanya masih satu kesatuan dari Taman Sari. Dari bangunan reruntuhan itu kita bisa melihat kota jogja, walaupun yang terlihat hanya atap-atap rumah. Berani jamin, kalau malam pasti indah sekali pemandangannya. Karena yang terlihat hanya kelap-kelip lampu yang menerangi kota jogja. Berjalan kaki kami kembali, menelusuri jalan yang tengah basah karena rintik-rintik hujan yang mulai turun. Berhenti di pos siskamling di tepi jalan, ternyata membawa keberuntungan. Hujan yang datang pun semakin deras. Lumayan sebagai tempat untuk berteduh. Cukup lama kami berdiam diri disana, hingga hujan mereda dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju trans jogja karena hari ini malam semakin menampakkan dirinya.

Keesokan harinya, hari yang cukup cerah untuk melanjutkan penjelajahan seolah tanpa mengenal lelah. Pastinya, karena waktu yang kita punyai di jogja harus di manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Candi Prambanan, itu adalah tujuan selanjutnya. Seperti biasa berbekal uang Rp. 3.000,- kita sudah bisa ke Candi Prambanan. Amoy, orang yang seharusnya jadi guide selama kita disini. Akhirnya ikut juga, itu pun setelah di rayu bakal di traktir masuk candinya. Tak memakan waktu yang lama, kita telah sampai pada shelter terakhir. Selebihnya kita jalan kaki menuju pintu masuk candi, lumayan membakar kalori. Untung udah makan, jadi gak semaput.

Harga tiket yang cukup mahal, karena Candi Prambanan merupakan salah satu objek wisata yang terkenal di daera JOgja ini. Tak lengkap rasanya belum ke Prambanan bila kaki kita telah menginjakan kaki di Jogja. Dengan uang Rp. 25.000,- kita bisa masuk ke dalam Candi Prambanan. Ada pula paketan ke Candi Ratu Boko yang di kenakan biaya Rp. 30.000,-. Sudah kepalang tanggung sampai disini, kurang lengkap rasanya bila tidak mencoba berkunjung ke Candi Ratu Boko. Jadilah kita bertiga mengambil tiket masuk paketan tersebut. Perjalanan awal, kita mengunjungi Candi Ratu Boko. Jarak yang ditempuh pun tak begitu lama. Pemandangan yang cukup indah, gunung merapi terlihat jelas dari sini. Pantas saja jika di tempat ini sering disewa untung acara resepsi pernikahan atau acara-acara besar dengan suasana santai. 

Memasuki kawasan Candi Ratu Boko lebih jauh. Banyak terdapat reruntuhan-reruntuhan candi. Diperkirakan dahulu di kawasan ini berdiri sebuah kerajaan. Di daerah ini sering pula di jadikan tempat berkemah bagi mereka yang menginginkan suasana alam untuk menghilangkan kejenuhan kota. Terlalu lama melihat-lihat, ternyata setelah kembali ke tempat parkiran. Kendaraan yang mengantarkan kita kesini sudah nggak ada. Khawatir sih pasti, tapi setelah berbincang" dengan petugasnya, Kita pun di jemput kembali dan melanjutkan perjalanan menuju Candi Prambanan. Tak mengenal lelah, kita memasuki satu persatu candi-candi yang ada disana. Gempa merapi beberapa waktu lalu, mengakibatkan candi utama tidak bisa dimasuki karena masih dalam perbaikian. Rintik hujan tak menghentikan perjalanan kita, namun harus kita akhiri. Amoy tengah panik, sebab waktu janjian dengan pacarnya telah lewat. Jadilah kita pulang dengan jalan terburu-buru. Kita berpisah dengan amoy, gw dah urie ada janjian dengan abangnya urie dan pergilah kita ke salah satu mall di Jogja (sumpaahh gw gk tau nama mall nya,T.T). Lumayan ada yg dapet baju ma sepatu baru dan pastinya gw dapet makan gratisan,:)

Hari selanjutnya, kita memilih untuk mencari tiket pulang. Gw udah seminggu lebih di jogja, keuangan pun mulai menipis. Rencana jelajah jogja pun rasanya udah cukup. Namun satu hal, gw pengen nonton Narnia. Salah satu film favorite gw, yang pastinya penayangannya di Bali belum ada. Berhubung ada di JOgja, gw sama urie nitip tiket nonton ke amoy. Kita memilih jam terakhir untuk menonton, hal ini di karenakan siangnya setelah membeli tiket. Urie masih membeli oleh" berupa bakpia. Berangkat nonton, dengan waktu yang cukup mepet. Hal ini disebabkan karena amoy dandannya lama (gw yakin pasti gara" itu...!!). Perjalanan ke XXI, sebenernya dapat di tempuh dengan trans jogja. Berhubungan waktu yang lumayan mepet, jika nunggu trans jogja yang belum tentu datengnya. Jadilah kita pergi ke XXI jalan kaki,hahhahaa lumayan jauh dan lumayan bisa bikin yang abis dandan mengeluarkan keringat.

Selesai menonton film, gak di sangka ternyata sepanjang film diputar ada yang bolak balik kentut. Sapa lagi kalo bukan amoy, gk kuat dingin sepertinya. Untung tidak menimbulkan bau, yang membuat orang panik selama pertunjukkan film. Kita berjalan cepat menuju shelter trans jogja, berharap masih dapat bus untuk pulang. Sayang dewi fortuna tidak memihak pada bus, tapi lebih memihak untuk kita membakar kalori kembali. Belum makan sore, di tambah harus jalan kembali ke kosan amoy. Tapi tunggu dulu, kita berjalan melewati kosan amoy. Terus berjalan dan untungnya tongseng tulang ayam yang gw idam-idamkan masih buka, makan lah kita disana. Perjalanan yang jauh, membuat perut menjadi lapar. Sesuatu yang di makan saat lapar semua berasa enak, kecuali cabe pasti berasa pedas,hahahhaa. Itulah malam terakhir berada di JOgja.

14-16 Januari 2010

antara merapi dan wonosari

Sudah hampir seminggu kita berada di JOgja. Lebih tepatnya seminggu kurang satu hari. Hari ini kita di ajak oleh amoy dan opal k merapi, kawasan yang menjadi saksi biisu, betapa Tuhan itu maha besar dan segala yang ada di dunia pun bisa berubah atas kehendak-Nya. Bermodal dari motor pinjeman, berangkatlah kita ke kawasan tersebut. Perjalanan yang terbilang tidak singkat itu, di sertai dengan cuaca yang agak mendung, sampailah kita dalam waktu kurang dari sejam.

Desa Umbulharjo, merupakan salah satu desa yang terkena dampak dari merapi. Sepanjang mata memandang, yang terhampar hanya hamparan pasir. Bukti nyata, bahwa di tempat ini telah terjadi peristiwa yang begitu dahsyat. Selepas dari meletusnya gunung merapi, di tempat ini kini menjadi salah satu objek wisata. Banyak wisatawan yang datang berkunjung, baik itu dari dalam kota maupun luar kota. Tak terkecuali, rombongan kita. Disini kita menikmati pemandangan yang begitu mengagumkan, walaupun hanya berupa hamparan pasir yang luas. Namun begitu mempesona. Kalau gak percaya, coba saja datang ke sana, pasti terkagum-kagum. :)

Kabut mulai turun, saat kita hendak beranjak meninggalkan tempat tersebut. Jarak pandang hanya beberapa meter dan mulailah gerimis turun. Selepas dari kawasan gunung merapi, kita pun mengunjungi tempat lain yang terkena dampak dari letusan tersebut yang untuk sementara tempat wisata itu tutup untuk sementara. Tak terasa waktu sudah mulai senja, perut pun sudah terasa laparnya. Ingin mencoba tongseng tulang seperti yang dibilang sama amoy. Sayang, tempat yang ingin kita kunjungi belum mulai menjajankan dagangannya. Terpaksa mengambil arah sebaliknya untuk mencari tempat makan lain.

Selesai makan, kita kembali k kos. Bersiap-siap, berbenah diri untuk pergi ke alun-alun. Tempat janjian dengan siska (saudaranya urie), sebab rencana esok kita akan mengunjungi rumah neneknya urie di wonosari. Singkat cerita, keesokan harinya pagi-pagi, kita sudah dijemput oleh pamannya urie. Jadilah kita pergi ke sana dengan menaiki motor dan dalam keadaan belum mandi. Berhubung pamannya membonceng diriku, untung saja pamannya nggak tau kalau gw belum mandi (hihiihii...). Perjalanan ke sana begitu menyenangkan, mendaki gunung lewati lembah mirip dengan lagunya ninja hatori, cuma sayang sungai mengalir indahnya tidak terlihat. Sepanjang perjalanan kita di hadapkan pada hamparan pegunungan yang hijau. Udara yang terhirup pun masih alami, namun sayang sesampainya di rumah mbahnya urie. Heandphone tidak berfungsi, karena no sinyal :D tapi gw menyukainya.

Esok harinya kita berangkat berdarmawisata, berjelajah mengelilingin pantai yang ada di sana. Perjalanan menuju pantai tersebut pun tak kalah indahnya. Warna hijau terhampar luas, di antara langit biru yang cerah. Ada tiga pantai yang kita kunjungi, pantai kukup, pantai tak bernama (soalnya gw gk tau namanya, sueerr dah..) dan pantai baron. Suasananya begitu menyenangkan, panas khas suasana pantai dan menikmati segarnya air kelapa muda. Gw lebih menyukai pantai yang tak bernama itu. Pasirnya yang putih dan suasana yang begitu sepi seperti pantai-pantai yang jarang terjamah. Gw rasa pantai ini memang belum banyak yang tau. Mengingatkan suasana pantai di Bali.

11-12 Desember 2010

Sabtu, 15 Januari 2011

rencana matang namun ujian menghadang

Sudah lima hari gw di jogja, gk kerasa hampir seminggu akan berlalu. Hari ini pun kami mandi pagi masih tetap mengungsi. Baru gw sadari ternyata listrik itu manfaatnya sangatlah penting, gak kebayang kalau pada akhirnya dunia hidup tanpa listrik. Rencana hari ini sudah kita patenkan untuk mengelilingi keraton dan sekitarnya, dari benteng venburgh, monumen perjuangan 11 maret, keraton Yogyakarta, musium kereta, kalo perlu sampai k Taman Sari dan reruntuhannya. Yuppy, kita berangkat lebih pagi dari hari kemarin dan pastinya hari ini dengan kamera karena kita nggak mau merasakan kembali kehampaan itu. Dengan uang 3rb kita d antar dengan trans jogja ke shelter tempat kita akan memulai penjalajahan. Tujuan pertama kita adalah benteng Venburgh. Sesampainya di depan pintu masuk, waw seperti sedang lagi ada renovasi "jangan-jangan ini hari benteng d tutup lagi" pikirku dalam hati, Ya sudahlah, kita melewatinya kemudian masuk k monumen perjuangan 11 maret dan mulailah bernarsis ria (sebagai bukti kita pernah ke sini) lagi asik"nya foto. Jedeeeerrrr batre kamera abis, hadaaaahhh. Masalah pertama menghadang, pagi" gini mau cari dmn itu baterai, sementara sejauh mata memandang gw gk ngeliat mini market. Tapi biarlah, yang penting kan usaha dulu mencari dan akhirnya kita menemukan supermarket, belilah si jelek itu baterai AA yang katanya cukup tahan lama bila di gunakan. Setelah membeli baterai, kebalilah kita ke tempat penjelajahan yang terhenti tadi. Waw ternyata pintu masuk benteng udah di buka, dan masuklah kita ke sana tanpa harus mengeluarkan uang alias GRATIS, hahahaha senangnya mengenal kata itu di kota yang baru gw jelajahi beberapa hari ini. Di dalam benteng tersebut terdapat miniatur-miniatur dan beberapa replika bukti perjuangan Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada masa penjajahan, tempat yang cukup clasic terbukti ada yang lagi foto pra wedding di sana, yang menandakan bahwa tempat ini begitu menarik.

Sudah puas mengeliling si benteng ini, kita pun berniat beranjak ke keraton Yogyakarta. Ketika akan memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut, tiba" hawa menjadi dingin, mendung datang dengan cepat dan secepat itu pula hujan datang dengan lebatnya. Hebaaatt masalah ke dua menghadang, hujan yang di sertai angin kencang datang. Mungkin banyak yang tida meridha'i gw buat k jogja. Kita yang ingin berlindung ke dalam gedung, mengurungkan niat karena penerangannya d padamkan. Akhirnya kita pun duduk-duduk di pintu masuk ke dalam gedung, sambil menunggu hujan reda. Cukup lama kita duduk di sana, mungkin hampir 2 jam berlalu, hingga akhirnya hujan pun berangsur mereda, walaupun masih ada titik" air yang jatuh. Namun kita memutuskan untuk tidak berdiam lama di sana dan menuju tempat berikutnya. Tapi sebelum itu kita menyempatkan diri untuk ke monumen perjuangan 11 Maret. Tak beberapa lama kita pun meninggalkan monumen itu, berjalan menuju Keraton Yogyakarta,karena masih hujan rintik" kita pun memakai payung (dan sekali lagi dengan org yg salah suasana romantis ini terjadi,haadaaahhh....). Selagi berjalan menuju ke sana kita melewati musium kereta. Jadilah kita masuk terlebih dahulu ke musium tersebut, keretanya bener" etnik dan antik, jangan salah ini kereta sampai sekarang amsih digunakan loch pada saat kegiatan keraton. Setelah puas melihat berbagai macam kereta yang sering digunakan sultan" keraton, kita melanjutkan perjalanan ke keraton Yogyakarta. Sayang sekali jam kunjungan keraton telah ditutup, karena sekarang hari Jum'at jam kunjung keraton hanya sampai jam 2 siang, sementara sekarang sudah jam 2 lewat. Keraton lewat masih ada Taman Sari, berjalan kembali lah kita menuju Taman Sari. Katanya sih jauh, tapi emang lumayan sih, buktinya nih kaki rada" pegel dikit,hihiiii.

Ketemulah pLang "Taman Sari", tapi kok kita gak nemuin jalan mau masuk ke sana. Tanyalah kita pada orang ada disekitar sana, katanya sudah kelewat masuk ke taman sari lewat gang itu. Ketika kita balik arah, kok orang yang kita tanyain tadi mengikuti. Menghindarlah kita, dengan masuk k butik batik yang ada disekitar sana dengan harapan orang yang mengikuti kita menghilang. Ternyata salah, pas keluar dari butik itu orang tersebut menunggu kita d depan toko. Wah usut punya usut, ternyata orang tersebut ingin jadi pemandu kami. Berhubung pengeluaran di batasi dan waktu berkunjung k Taman Sari hampir habis, jadilah kita bilang k org tersebut kami minta maaf gk jadi k sana karna waktu sudah sore, Jadilah petualangan itu selesai, walupun banyak halangannya, tapi niat untuk keliling jogja masih menggebu". Hal yang paling membuat gw senang adalah, sore ini kita gk perlu mengungsi lagi untuk mandi,horeeeeeeee,^^

10 Desember 2010

Jumat, 14 Januari 2011

no listrik, no camdig tapi menyenangkan

Hari rabu, tepat tanggal 08 Desemebr 2010. Sudah 3 hari gw berada di kota Gudeg ini. Hari ini gw diem d kosan amoy, nyambi browsing dengan bekel modem yg gw bawa dari Bali. Sedangkan amoy sendiri lagi ada ujian tengah semester. Padahal tadi pagi" udah gw bangunin buat belajar, dan pas mata gw melek emang sih dya ada di depan layar laptopnya, gw kira belajar lah malah facebook'n,wkwkwkkk eduuunnn segitu pengaruhnya facebook merajai otak manusia sekarang. Amoy berangkat ngampus, gw maen game hasil download semalem. Lagi asik" maen, jedengggg baguuusss listrik mati, gw kira itu listrik turun ternyata nggak, itu listrik konslet total,hahhahaaa. Menunggu amoy pulang, gw asik membaca buku yang kemarin beli di shooping book, dan tertidurlah dengan pulasnya. Baru bangun pas amoy dateng ngebuka pintu kamarnya, pas gw cek hape ternyata amoy sms bilang "bie buka'n pintu nya donk gw dah d depan nech", yang ada gw bilang pas dya ada d kamar, swrie moy gw tadi tdr gk baca sms lw. (gw yakin tuh dya maki" gw dalem hati,hahaaaa).

Ada 3 hal yang berkesan dalam di hari pertama berjelajah dengan wuri, yah si jelek satu ini akan tiba sore ini dan 3 hal tersebut adalah :

1. NO LISTRIK
Seperti yang telah diketahui listrik mulai konslet sejak si amoy lagi ujian, apa pengaruh amoy ujian terus listrik mati gk ada yang tau. Sore" listrik sempet nyala beberapa jam, namun padam lagi alias konslet lagi. Yang pasti listrik mati itu membawa mala petaka dimana-mana, kecuali buat amoy. Listrik mati itu adalah berkah buat dya, karena dengan listrik mati dya bisa deket lagi sama yang namanya Noval (mantannya, yg kyknya sih masih di arep" sama dya, cuma gk mau ngaku,hihihi). Karena beberapa orang telah berusaha ngebenerin gk ada yang bisa, dya memanggillah sang mantan kekasih pujaan hatinya itu tapi sayang percuma karena si nopal (panggilan akrab amoy, biasa org sunda huruf "f" sama huruf "v" d ganti pelafalannya jadi huruf "p") juga gk bisa menanganinya. Tapi berkat listrik mati dya jadi bisa deket lagi sama mantannya itu, terbukti sejak dya dateng sampe si jelek dateng n kita mau tidur, dya masih deket" ajjeh sama mantan kekasihnya itu, ada maghnetnya kali ye nempel terus. Jadilah malam itu tidur gelap"n dan berempat. Karena temennya amoy si nining datang menginap, jadilah kita tidur kaya ikan pindang,hahahaha
Benar" menyengsarakan si litrik itu, mau boker susah, mandi susah segalanya pokoknya susah. Jadi ikut merasakan betapa sengsaranya hidup tanpa air,ckckckkkkk Jadilah pagi" itu kita bertiga mandi ngungsi. Dengan naik motor GTO (gonceng tiga orang) kita menuju kosan temennya amoy yang telah bersedia menampung kita". Lucunya sang penunjuk jalannya mengarahkan "bie belok kanan" padahal tangan kirinya yang bergerang seolah menandakan belok kiri. Yang ada gw bilang "Qo gk sinkron gt sih, yg bener belok kanan pa kiri nih", kemudian amoy bilang "eh iyah belok kanan, salah nih tangan",hahahahaa pengaruh air gk ada apah karena masih berada d awang" mimpi, yang pasti gw gk peduli, yang penting MANDI. Tapi bukan sampai k kosan temennya amoy, kita malah nyasar karena sang petunjuk jalan lupa ingatan tiba". Dan usut punya usut ternyata itu juga petama kali dya k kos temennya itu, saraaaaappp. Udah gak ada air karna listrik, d ajak nyasar pula,hahahaahaa tapi seru jadi sebuah cerita baru :D
Akhirnya kosan itu d temukan dan kita pun bebas mandi sesuka hati dan siap" memulai petualangan berdua, ya hanya berdua dengan jelek, karena si amoy lagi sok sibuk,hihihiii. Kejadian listrik mati itu gk hanya terjadi pada semalam dan pagi ini, Ternyata pas kita pulang keliling kota jogja, itu listrik masih aja mati dan terpaksa mandi sore kita ngungsi, untung gk pake acara nyasar lagi. :D

2. NO CAMDIG
Tau kan arti no camdig,??? yuupp betul sekali, gk ada camera digital. Gw gk memulai petualangan ini dan diam di kosan amoy, hanya menunggu si jelek datang, Karena cuma dya yang punya camera digital. Mana ada jalan-jalan nggak bawa camera digital, ibarat sayur gak pake garem kurang asin kurang sedep. Gak ada yang bisa di abadikan, dan gk ada yang bisa di jadikan bukti kalo kita benar" ada di sana dan benar" pernah ke sana. Camdig nya si jelek di bawa sama abangnya, karena pas kemarin datang k jogja dya datang bersama abangnya n pacaranya (hahahhaa gw bisa ngebayangain dya d dalam kereta jadi kambing yang mengembe embe,hahahaa :p ), dan dya lupa minta pas kemaren abangnya nganter dya k kosannya amoy tuk ketemu sama gw. hadaaaaaahhhh hampa rasanya jalan" hari ini. Namun kami sempat masuk k pendopo Yogyakarta yang letaknya di alun" selatan dan k monjali (monumen jogja kembali), walaupun gk sempat foto" tapi kami lumayan menikmatinya.
Saran yang sangat penting, kalo kemana" apalagi ke tempat wisata yang jarang" kita datangi, bahkan butuh mengumpulkan uang yang banyak, wajiiibbb bawa kamera, itu perlu bahkan sangat perlu. karena dengan itu kita bisa pamer, kalo pernah ke sana,hihihi

3. TAPI MENYENANGKAN
Nah ini dia, walaupun banyak cobaannya dari listrik mati, gk bawa camdig, jalan" kayak anak ilang, namun semua itu menyenangkan. Susah tapi menggembirakan. Sebel tapi mengasikkan. Soalnya ada yang ketemu sama cem"nnya loch, hihihiiii tapi itu d keep za, gk baik bergosip,hihiii
Dari jalan" k keraton kita muter" k pasar bringharjo, lebih tepatnya sih di pinggiran pasar. Dan kita pun ikut ngintil org yang mau ngejual HP,hahahha dah kyk calo ajjah, ya gak papa lah demi menyenangkan hati yang lg rada" kasmaran,^^. Setelah ikut ngintil orang mau gadai HP, gw ketemu sama saudaranya si jelek. Akhirnya bisa jalan" juga naek motor, karena saudaranya jelek dateng dg temannya dan membawa motor dua, Jadilah kita pergi meluncur k MONJALI (Monumen Jogja Kembali). Waktu berkunjung d monjali satu jam lagi akan habis, untung masih bisa masuk k monumen itu dan untung juga masuknya gk bayar,hohooho serba beruntung pokoknya. Di dalam monumen itu d jelaskan tentang perjuangan rakyat jogja sebelum masa" pemerintahan dan di dinding"nya jg terdapat relief" penceritaan sejarah tersebut. Monumen itu berbentuk kerucut, yang di bagi menjadi tiga lantai, lantai pertama hanya berupa taman, lantai dua miniatur" perjuangan Jendral Soedirman d Jogja, dan lantai tiga sebagai tempat upacara dan pembacaan teks proklamasi d bacakan. Pulang dari monjali kita balik lagi jalan" malioboro melihat" sesuatu yang kali saja membuat kita tertarik untuk bisa membelinya dna akhirnya gw membeli kaos bergambar bordiran wayang, kaos yang sempat gw incer ketika melewati beberapa pedagang. Lelah berjalan", kita makan d salah satu warung yang letaknya di alun" selatan, waaaaahhhhh boleh d coba, nasgor mawuuuttnya enakk banget, pantes ajjah ini tempat rame, gk nyesel dech, ya walupun harganya rada mahal, tapi puas lah...

Pokoknya walaupun jalan" itu biasa ajjah no camera, no listrik tapi bisa tetep menyenangkan, karena kenangan itu hadir dari semua yang menyebalkan, dan itu akan selalu jadi ingatan yang sulit di lupakan,^^

08-09  Desember 2010